UEA Berminat Terlibat Proyek Pemindahan Ibukota RI ke Kaltim


JAKARTA – Kunjungan kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Uni Emirat Arab (UEA) mendapat kesepakatan investasi dengan nilai besar. Bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheiks Mohamed Bin Zayed (MBZ), Jokowi menghasilkan kesepakatan investasi senilai US$ 22,89 miliar atau setara Rp 314,9 triliun.

Kesepakatan itu terdiri dari 11 perjanjian bisnis dan 5 perjanjian pemerintah dengan pemerintah yang meliputi bidang energi, migas, petrokimia, pelabuhan, telekomunikasi, dan riset.

Dalam pertemuan itu, pihak Abu Dhabi juga menyatakan minat untuk terlibat dalam proyek pemindahan ibu kota ke Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim). Mendengar minat tersebut, Jokowi pun langsung menawarkan MBZ masuk dalam dewan pengawas pemindahan ibu kota negara (IKN) Indonesia yang baru.

“Presiden Jokowi sebagaimana yang sudah kami sampaikan mencoba melibatkan semua pihak secara internasional di dalam upaya untuk membangun ibu kota baru. Karena salah satu yang diinginkan oleh beliau bahwa ibu kota baru Indonesia ini merupakan persembahan Indonesia untuk dunia,” kata Jubir Presiden, Fadjroel Rahman di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (13/1/2020).

Fadjroel menjelaskan keterlibatan negara-negara lain dalam proyek pemindahan ibu kota agar beragam teknologi canggih ada di sana. Seperti Jepang dan Korea Selatan.

Jepang, kata Fadjroel menawarkan diri untuk mengisi teknologi di sektor transportasi salah satunya mobil listrik dan sistem transportasi publik. Sedangkan Korea Selatan menawarkan pembangunan smart city dengan sistem teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligance/AI).

Menurut Fadjroel, tawaran menjadi dewan pengarah pemindahan ibu kota juga direspon positif oleh MBZ. Sebab, pembangunan ibu kota negara baru mengusung skema keberlanjutan.

Mengutip Detikcom, kesepakatan investasi yang besar ini juga akan dimanfaatkan oleh BUMN. Di dalam kerja sama senilai US$ 22,89 miliar itu, BUMN berkontribusi dengan adanya kerja sama antara Pertamina dengan Adnoc, perusahaan migas yang dibangun pada 1971. Adnoc sendiri memiliki cadangan minyak terbesar nomor tujuh di dunia.

Pertamina juga bekerjasama dengan Mubadala Petroleum yaitu perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas hulu internasional yang mengelola aset dan operasi mencakup 10 negara dengan fokus geografis utama di Timur Tengah dan Afrika Utara, Rusia, dan Asia Tenggara.

Selanjutnya, Inalum bekerjasama dengan Emirates Global Aluminium (EGA) yaitu produsen ‘aluminium premium’ terbesar di dunia. Kemudian, PLN bekerjasama Masdar yang merupakan perusahaan energi baru terbarukan (EBT) berbasis di Abu Dhabi, UEA dalam pembangunan PLTS Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat. Pembangkit ini akan menjadi PLTS terbesar di Asia Tenggara.


Like it? Share with your friends!

0

You may also like

DON'T MISS