Tuduhan Jokowi PKI Tidak Logis, Waspada Fitnah dan Hoax Jelang Pemilu 2019


JAKARTA TERJITU – Calon Presiden Petahana Joko Widodo kembali mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mempercayai hoaks maupun fitnah yang tersebar jelang Pemilu 2019. Jokowi menilai bahwa saat ini di masyarakat banyak beredar hoax, kabar fitnah, dan kabar bohong. Lanjutnya, Jokowi mengatakan, hoax, fitnah, kabar bohong tersebut sudah banyak tersebar melalui media sosial maupun langsung disebar dari rumah ke rumah. Pihaknya berpesan kepada masyarakat agar berhati – hati dengan berbagai kabar bohong yang beredar menjelang pelaksanaan pemilu serentak pada April nanti.

Jokowi mencontohkan tentang beredarnya kabar burung yang menyerangnya apabila dirinya kembali terpilih, seperti pendidikan agama akan dihapus, azan dilarang, perkawinan sesama jenis dilegalkan telah beredar di masyarakat.

“Tidak mungkin, siapapun presidennya tidak mungkin melakukan itu, karena Indonesia ini merupakan negara dengan norma agama yang kuat, norma budaya yang kuat, norma etika dan tata krama yang kuat,”tukasnya.

Dirinya juga membantah kabar bohong yang menyerangnya, dimana terdapat kabar yang berhembue ke masyarakat bahwa Jokowi merupakan bagian dari PKI. Pihaknya menjawab “Mana ada PKI balita. Saya lahir pada 1961, pemberontakan PKI pada 1965. Namun ada yang percaya, makanya Jokowi menjawab tegas tudingan tersebut.

Ketua Komisi I Abdul Kharis mengatakan bahwa sejauh ini penggunaan UU selalu sesuai dengan kebutuhan yang ada. Terkait hoax, UU ITE juga telah digunakan penegak hukum untuk menanganinya. Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dr. Moeldoko mengatakan, banyak kritik dan pertanyaan kepada pemerintah tentang ekonomi, infrastruktur, permasalaham sosial dan lainnya. Sayangnya beberapa kritik digunakan untuk menjadi hoax atau berita bohong.

Pihaknya mengatakan bahwa penanggulangan hoax yang dilakukan bersama – sama dengan masyarakat. Harus ada kesadaran dalam menyeleksi berita. Permasalahan hoax bukan masalah yang sepele karena dapat menimbulkan perpicahan bangsan dan pesimisme akan masa depan bangsa.

“Permasalahan hoax tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah, perlunya kesadaran bersama untuk penyikapi situasu ini dengan waspada sehinbgga biosa membedakan antara hoax dan kritik, sehingga tidak akan membawa bansa kita menjadi bangsa yang pesimis,” tutur Moeldoko.

Permasalahan hoax memang harus ditangani secara serius dan negara harus tegas menindak hoax yang tersebar di negara ini sesuai hukum dan regulasi. Dalam menanggapi hoax yang berasal dari kritik, pemerintah mempunyai tim khusus untuk menelusuri permasalahan sehingga langsung dapat ditangani. Moeldoko menegaskan bahwa kita harus tetap optimis terhadap pemerintah. “Pemerintah sekarang sudah terbukti memiliki pencapaian untuk bangsa,” tuturnya

Dalam memberangus hoax pemerintah juga tidak main-main, Pada kesempatan sebelumnya Tim Cyber Crime Bareskrim Polri telah barhasil menangkap Jundi, pemilik sejumlah akun instagram yang diduga kerap menyebarkan hoax dan ujaran kebencian. Polisi menyatakan Jundi beberapa kali menyebarkan unggahan berupa tudingan bahwa Presiden Jokowo adalah pengikut PKI. Jundi memproduksi sendiri konten hoax itu dalam akunnya. Dirinya mengaku membuat konten ujaran kebencian karena tak mampu menghadapi masalah kehidupan yang membuatnya resah.

Atas perbuatannya tersebut, Polisi menjeratnya dengan undang – undang Informasi dan Transaksi Elektronik, UU Nomor 40 tentang penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis  dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 1 Miliar.

Pada kesempatan yang lain, Gus Karim selaku Guru Ngaji Jokowi sempat meyakinkan bahwa isu PKI yang ditujukan kepada Jokowi hanyalah hoax belaka. Dirinya juga memastikan dari silsilah keluarga maupun Jokowi pribadi, sama sekali tidak ada yang terlihat PKI. Termasuk isu terkait Jokowi yang tidak bisa mengaji dan melafalkan Al Qur’an, Gus Karim pun memastikan isu tersebut tidaklah benar. Sebaliknya, ia meyakinkan jika keislaman Jokowi luar biasa. Pengasuh Ponpes AZ – Zayadyy Solo itu kemudian menyampaikan kesaksiannya tentang keislaman Jokowi dan ketaatannya beribadah fardhu maupun sunnah.

“Saya mengenal Pak Jokowi sejak muda. Beliau sangat tekun beribadah. Shalat yang dikerjakan pak Jokowi tidak hanya fardhu tetapi juga shalat sunnah,” tuturnya.

Gus Karim juga mengaku, bahwa Jokowi sering ke rumahnya dan ngobrol hingga dini hari. Ditengah pembicaraan sering meminta izin untuk mengambil wudhu untuk menjalankan shalat sunnah. (*)

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS