Tanggapi Aksi 22 Mei, Mahfud MD: Bungkusnya Atas Nama Demokrasi, Tapi Isinya Premanisme


JAKARTA, TERJITU Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD menyatakan bahwa aksi 22 Mei sebagai aksi kekerasan dan premanisme yang dibungkus atas nama demokrasi dimana aksi 22 Mei merupakan pembajakan terhadap demokrasi.

“Bungkusnya atas nama demonstrasi tapi isinya sebenarnya kekerasan, premanisme,” kata Mahfud MD di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (23/5).

Mahfud meminta aparat kepolisian untuk menindak tegas pelaku kerusuhan tersebut.

“Itu merupakan pengacauan tehadap ketertiban umum, maka aparat bisa bertindak sesuai dengan protap yang tersedia tentu saja,” ujarnya.

Aksi 22 Mei 2018 merupakan pembajakan demokrasi karena tidak melalui prosedur dan mekanisme dalam negara demokrasi yang menempuh langkah hukum untuk mencari kebenaran dari Pemilu namun dirusak dengan cara aksi secara anarkis.

“Aspek prosedural itu adalah langka-langkah hukum untuk mencari kebenaran dari sebuah pemilu nah dicederai dengan cara demo dengan anarkis,” tegas Mahfud.

Mahfud MD menyebut demonstrasi menolak hasil Pilpres 2019 alias Aksi 22 Mei berujung kerusuhan di sejumlah titik DKI Jakarta, memang sengaja dilakukan untuk menimbulkan korban jiwa yang dijadikan martir.

“Sebelum terjadinya aksi tersebut, kami dari Gerakan Suluh Kebangsaan sudah berkeliling ke intelijen, ke TNI ke Polri, dan memang ada informasi gerakan memprovokasi mencari martir,” kata Mahfud MD seperti diberitakan Antara.

Perusuh memang menargetkan jatuhnya korban jiwa dalam aksi kericuhan agar memicu kemarahan publik yang lebih luas. Oleh karena itu, pihak aparat TNI-Polri sudah menegaskan tidak memperbolehkan personelnya membawa senjata dengan peluru tajam.

Dia mendukung upaya Polri itu. Menurutnya, Polri cukup menggunakan peluru karet dalam menindak tegas massa secara terukur dan prosedur tetap. (aki/mcf)

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS