Tahun 1998 Rupiah Terdepresiasi 254%, Kondisi Saat Ini Jauh Lebih Baik


Jakarta – Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan menembus 14.900 per dolar AS pada Selasa sore, 4 September 2018.

Meskipun Rupiah mengalami pelemahan, namun hal tersebut masih sangat jauh dibandingkan dengan krisis 1998, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak panik.

Staf Khusus Presiden, Ahmad Erani Yustika menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik ketimbang saat krisis 1998.

Erani mengatakan, saat krisis 1998, hampir seluruh indikator ekonomi Indonesia menunjukkan kondisi yang tidak baik. Contohnya, pertumbuhan ekonomi yang minus dan inflasi yang melambung tinggi.

“Pertumbuhan pada tahun tersebut minus 13,1 persen, ekonomi betul-betul berkabut tebal. Nilai tukar rupiah mencapai Rp 16.650 per dolar padahal IHSG pada saat itu hanya 256, sekarang terus tumbuh menjadi 5.700-an. Dan inflasi melambung sampai 82,4 persen,” kata dia.

Sedangkan pada 1998, UMP hanya berkisaran di angka Rp. 150.900 dimana saat ini UMP adalah Rp. 2.260.225.

Selain itu, lanjut dia, saat 1998 cadangan devisa Indonesia hanya USD 17,4 miliar dollar dan kredit bermasalah atau Nonperforming Loan (NPL) luar biasa tinggi hingga 30 persen.

“Dan CAR minus 15,7 persen sektor perbankan amat rapuh. Itu masih ditambah dengan suku bunga acuan BI yang mencapai 60 persen dan rasio utang terhadap PDB sebesar 100 persen,” ungkap dia.

Melihat data tersebut, lanjut Erani, secara keseluruhan situasi yang terjadi sekarang ini dalam koridor ekonomi yang terkelola dengan baik, terlebih bila dibandingkan dengan 1998.

“Pemerintah dan BI terus memonitor kondisi ekonomi dan bertekad untuk memerbaiki defisit transaksi berjalan agar tekanan terhadap pelemahan rupiah makin berkurang. Beberapa kebijakan sudah diambil dan terus ditambah mengikuti dinamika ekonomi yang terjadi. Saling bergandengan tangan dan menumbuhkan sikap positif akan sangat membantu penguatan ekonomi nasional ke depan,” tandas dia.

Dihimpun data dari Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) ada beberapa perbedaan terkait lemahnya nilah tukar Rupiah pada tahun 1998 dan 2018.

1. Rupiah terdepresiasi

Pada tahun 1998 Rupiah terdepresiasi 254%.

Pada September 1997 Rupiah berada di 3.030, lalu Sept 1998 naik tajam menjadi 10.725.

Sedangkan pada tahun 2018, rupiah terdepresiasi sebesar 11% dari 13.345 menjadi 14.815/USD

Kalau pelemahan rupiah pada tahun 2018 seperti 1998, seharusnya rupiah mencapai 47.241/USD pada September 2018

2. Cadangan Devisa

Pada 1998 cadangan devisa Indonesia sebesar 23,61 miliar Dolar sedangkan pada tahun 2018 cadangan devisa sebesar 118,3 miliar Dolar

3. Net Capital Inflow Triwulan II

Pada tahun 1998, Net Capital Inflow triwulan II sebesar minus 2,470 miliar dolar, sedangkan pada tahun 2018, Net Capital Inflow triwulan II sebesar 4,015 miliar dolar.

4. Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II

5. Inflasi Bulan Agustus

Pada bulan Agustus 1998 tingkat inflasi sebesar 78,2%, sedangkan pada bulan Agustus 2018 inflasi 3,2%.

6. Angka Kemiskinan

Pada tahun 1998, angka kemiskinan sebesar 24,2% atau sebanyak 49,5 juta orang, sedangkan tingkat kemiskinan pada 2018 sebesar 9,82% atau sebanyak 25,9 juta orang.

Hal tersebut menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih stabil meskipun tengah menghadapi tekanan global.

[aamcf]

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS