Warning: session_start(): open(/tmp/sess_bfdbo6p18q1tmfv8nmb6kdpfp4, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/bacaaajz/terjitu.com/wp-content/themes/boombox/includes/rate-and-vote-restrictions/vote/class-boombox-vote-restriction.php on line 193

Warning: session_write_close(): open(/tmp/sess_bfdbo6p18q1tmfv8nmb6kdpfp4, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/bacaaajz/terjitu.com/wp-content/themes/boombox/includes/rate-and-vote-restrictions/vote/class-boombox-vote-restriction.php on line 196

Warning: session_write_close(): Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in /home/bacaaajz/terjitu.com/wp-content/themes/boombox/includes/rate-and-vote-restrictions/vote/class-boombox-vote-restriction.php on line 196
Seniman Getah Getih Sebut Biaya Rp 300 Juta, Anies Klaim Rp 550 Juta – Terjitu

Seniman Getah Getih Sebut Biaya Rp 300 Juta, Anies Klaim Rp 550 Juta


JAKARTA, TERJITU – Getah-getih bambu Anies Basweden tiba-tiba menjadi perbincangan publik termasuk warganet. Mereka menyorotinya sebagai proyek mubazir, yang hanya menghabiskan uang rakyat.

Seorang netizen membagikan artikel berjudul “Bukan Rp 550 Juta, Seniman Getah Getih: Produksi Tak Sampai Rp 300 Juta” yang tayang di Suara.com

Dalam artikel tersebut diberitakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pernah meyampaikan harga instalasi bambu Getah Getih di Bundaran Hi, yang kini sudah dibongkar seharga Rp 550 juta. Tetapi kreator getih getah, Joko Avianto, mengatakan biaya produksi untuk karya seninya itu tidak mencapai Rp 300 juta.

Joko menerangkan, kisaran jumlah yang ia ketahui hanya sekadar biaya produksinya. Ia tidak tahu rincian pengeluaran seluruhnya mencapai Rp 550 juta sesuai yang disebutkan Anies.

“Saya lupa, yang jelas enggak sampai Rp 300 (juta) itu enggak sampai. Ya enggak sampai,” ujar Joko saat dihubungi, Kamis (19/7).

Hal tersebut sangat jauh dengan harga keseluruhan yang dibanderol oleh Anies sebesar Rp 550 Juta.

“Nanti dicek lagi. Tapi setahu saya harganya sama segitu,” ujar Anies di Balai Kota, Jumat (19/7).

Sebagai seorang pemimpin, seharusnya Anies mengetahui secara detail penggunaan anggaran yang harus disampaikan secara transparan ke publik sehingga tidak menimbulkan penasaran dan bertanya-tanya.

Namun, sepertinya selama Polisi Taliban masih bersarang di KPK, Gubernur DKI Jakarta tak akan tersentuh kasus hukum.

Seorang netizen sempat mengomentari cuitan netizen lainnya yang membagikan sebuah artikel berjudul “Bukan Rp 550 Juta, Seniman Getah Getih: Produksi Tak Sampai Rp 300 Juta” yang tayang di Suara.com.

Selama polisi Taliban dgn “klan tertentu” masih bersarang di KPK …. rasanya pesimis @DKIJakarta akan tersentuh….”

Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, terjadi perselisihan di kubu internal KPK yang melibatkan polisi Taliban (kubu Novel Baswedan) dan polisi India Ikubu non-Novel).  Ketidaktegasan para pimpinan KPK menjadi pangkal dari adanya perpecahan tersebut.

“Sekarang berkembang isu di internal. (KPK). Katanya ada polisi India dan ada polisi Taliban. Ini kan berbahaya. Taliban siapa? Kubu Novel (penyidik senior KPK, Novel Baswedan). Polisi India siapa? Kubu non-Novel. Perlu ada ketegasan komisioner untuk menata dan menjaga soliditas institusi ini,” kata Neta dalam diskusi bertema ‘Bersih-bersih Jokowi: Menyoroti Institusi Antikorupsi’ di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (5/5).

Sejak masyarakat terpecah antara 01 dan 02, di internal KPK yang seharusnya independen pun ikut terbelah. KPK seperti bermain politik dengan lebih banyak menargetkan orang-orang yang berada di kubu 01. Sehingga bisa dipastikan untuk kasus Gubernur DKI dan karya seninya sepertinya tak akan tersentuh selama polisi Taliban masih ada didalamnya.

Tantangan KPK harus bisa profesional, independen dan proporsional. Karena itu, diperlukan ketegasan para komisioner, jangan sampai ada penyidik atau anggota KPK bermain politik. Jangan sampai KPK dijadikan alat balas dendam kelompok politik tertentu untuk membalas lawan-lawan politik mereka dan melindungi kawan-kawan politiknya. (ren/mcf)

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS