Presiden Ajak Mubaligh Sampaikan Aksi Teror Tak Bermartabat


JAKARTA – Presiden Joko Widodo mengajak mubaligh atau pendakwah untuk terus menyebar luaskan pesan kebaikan tentang ajaran Islam. Presiden ingin pendakwah menjelaskan kepada masyarakat bahwa Islam merupakan agama yang tak pernah mengajarkan umatnya untuk berbuat jahat dan membunuh orang melalui aksi-aksi terorisme.

“Ini kewajiban kita bersama mubaligh mengingatkan ke santri, jamaah, umat, bahwa Rukun Islam tidak mengajarkan seperti itu. Tidak ada,” kata Jokowi saat menghadiri Halaqah Nasional Hubbul Wathon dan Deklarasi Gerakan Nasional Mubbaligh Bela Negara di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (14/5).

Presiden menambahkan, mubaligh harus menyampaikan agama Islam merupakan agama yang saling menghormati, rendah hati dan tak mengajarkan kekerasan. “Agar bisa bersama-sama kita menyampaikan mengenai betapa tidak bermartabatnya aksi teror tersebut,” ujar Presiden.

Seperti diketahui, aksi bom bunuh diri terjadi pada Minggu (12/5) di tiga gereja di Surabaya, yakni gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya, Gereja Pante Kosta, Jalan Arjuno dan GKI Jalan Diponegoro. Akibat aksi itu, sebanyak 13 orang meninggal dunia dan 43 orang luka-luka akibat serangan tersebut.

Polri berhasil mengungkap pelaku bom bunuh diri dan motif di balik teror ini. Pelaku bom bunuh diri pada tiga lokasi merupakan satu keluarga, terdiri dari bapak, ibu dan empat anaknya. Mereka diketahui bernama Dita Upriyanto dan Puji yang beralamat di Wonorejo Asri, 11 Blok KK Nomor 22, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Sedangkan keempat anaknya masing-masing berinisial Y (18), FH (16), FS (11) dan P (9).

Bom juga meledak di Rusun Wonocolo yang diduga terkait bom Surabaya juga menewaskan tiga orang sekeluarga. Bom itu diduga meledak setelah dirakit pelaku. Akibatnya tiga orang tewas dalam ledakan bom di Blok B lantai 5 Rumah Susun (Rusun) Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur. Tiga lainnya luka-luka. Tiga orang tewas masing-masing Anton Febriyanto (47) sebagai kepala keluarga, Puspita Sari (47) istri Anton dan Rita Aulia Rahman remaja 17 tahun yang merupakan anak pasangan Anton-Puspita.

Bom ketiga meledak di Polrestabes Surabaya, Senin (14/5).

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS