Picik! Gerindra Manfaatkan Isu Rupiah untuk Kepentingan Politik


JAKARTA – Partai Gerindra kembali mengeluarkan pernyataan provokatif. Memanfaatkan isu rupiah yang melemah terhadap dolar, Gerindra menuding anjloknya rupiah karena infrastruktur.

Pernyataan provokatif Gerindra ini dikatakan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono. Ia mengaitkan pelemahan rupiah dengan encana yang diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Darmin Nasution yang menunda pembangunan infrastruktur.

“Gila, infrastruktur yang menyebabkan Indonesia krisis,” ujarnya, Senin (10/9).

Berlagak pahlawan, Ferry mengklaim jika sejak awal Gerindra mengingatkan pemerintah untuk melaksanakan proyek-proyek infrastruktur yang bersifat mendesak bagi masyarakat umum saja. Hal itu karena keterbatasan anggaran dan resiko devisa yang terkuras. Pasalnya, sambung dia, hampir semua bahan baku proyek infrastruktur adalah hasil impor. Apalagi dampaknya terhadap produksi ekonomi rakyat belum terasa.

Dari pernyataan ini, jelas Partai Gerindra sedang memanfaatkan situasi melemahnya rupiah dengan menarik ke ranah politik agar berdampak pada sentimen negatif.

Kebijakan penundaan pembangunan infrastruktur tetap mempertimbangkan urgensi sebuah proyek. Kriteria proyek yang ditunda adalah yang masih dalam tahap persiapan dan belum sampai pada financial closing. Sehingga pernyataan Gerindra tersebut sangat tidak sesuai dengan kondisi lapangan.

Masyarakat selama ini mengetahui, pembangunan infrastruktur era Joko Widodo-Jusuf Kalla selama empat tahun terakhir, sangat bermanfaat pada masa mendatang terutama dalam menghadapi era ekonomi digital. Namun disisi lain terjadi overheating di mana kapasitas ekonomi tidak mampu lagi mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Maraknya sentimen negatif di pasar di antaranya mengenai perang dagang serta harga minyak mentah yang meningkat membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah melemah. Sehingga salah satu upaya pemerintah untuk untuk menstabilkan nilai tukar rupiah adalah dengan menunda pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang masih dalam daftar perencanaan (pipeline).

Perdebatan tentang pelemahan nilai tukar rupiah di media sosial justru akan menebar ketakutan. Dampaknya, dunia usaha dan investor terpengaruh sentimen negatif tersebut. Pelemahan nilai tukar rupiah saat ini akibat masalah fundamental dan struktural ekonomi Indonesia yang belum selesai. Pihak oposisi harusnya memberikan kritikan melalui masukan yang bersifat konstruktif, agar membawa ketenangan di masyarakat. Bukan malah menari-nari di atas penderitaan rupiah dan terus menyalahkan pemerintahan Jokowi.


Like it? Share with your friends!

0

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS