Peranan Prabowo Dalam Kasus Pelanggaran HAM Berat Di Timor Leste


JAKARTA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tahun 2018 silam telah menetapkan dua pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden untuk mengikuti ajang Pemilihan Presiden 2019.

Dari dua pasangan capres-cawapres, Prabowo Subianto adalah figur yang paling berpengalaman dalam mengikuti kontestasi ini. Tahun 2009 dirinya maju sebagai cawapres mendampingi Megawati Soekarnoputri namun kalah oleh pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono. Pada tahun 2014, Prabowo kembali maju, kali ini sebagai capres dan menggandeng Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Hatta Rajasa sebagai cawapresnya. Namun, lagi-lagi Prabowo harus menelan kekalahan. Pasangan Prabowo-Hatta harus mengakui keunggulan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Prabowo kemudian dikenal dengan sebutan ‘Capres Abadi’.

Salah satu permasalahan yang dihadapi Prabowo adalah keterlibatan dirinya dalam berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di berbagai daerah, rakyat pun masih tetap ‘menolak untuk melupakan’. Hingga saat ini, mereka terus menuntut agar kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu dapat dengan segera dituntaskan dan para pelanggar HAM berat seperti Prabowo mendapat hukuman yang seadil-adilnya.

Ternyata kasus penculikan dan aktivis pada tahun 1998 bukanlah persoalan HAM terburuk Prabowo. Sebelumnya, pada tahun 1983 di Timor Leste, ratusan nyawa melayang setelah terjadi pembunuhan besar-besaran termasuk perempuan dan anak-anak. Pada saat itu, mereka sebelumnya telah menyerah kepada TNI setelah turun dari Gunung Bibileo. Hal tersebut berdasarkan kesaksian dan penyampaian korban kepada Komisi Kebenaran Timor Leste CAVR (Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Leste).

Secara keseluruhan, tercatat 530 nama orang yang dibunuh atau hilang selama operasi kontra perlawanan yang berlangsung hingga tahun 1984 di seluruh Timor Leste. Sejumlah besar orang yang selamat dari Gunung Bibileo juga meninggal dunia akibat kelaparan di kamp konsentrasi yang dijaga ketat oleh aparat militer.

Prabowo Subianto memainkan peran sentral dalam operasi kontra perlawanan di Timor Leste sehingga berujung pada promosi dari  Kapten ke Mayor di saat usianya masih 32 Tahun. Laporan CAVR, menggambarkan kekejaman secara rinci dan mengerikan di masa keterlibatan Prabowo belum pernah disebutkan dalam publikasi umum Indonesia, apalagi ditindak oleh petugas peradilan Indonesia.

Kebisuan ini memungkinkan Prabowo untuk mengklaim tuduhan tidak terbukti, apalagi jika kelak terpilih menjadi Presiden. Dipastikan akan lenyap bersama dengan kasus-kasus lain di dirinya.

Beberapa kasus di masa lalu yang belum terungkap dan tak mau diungkap serta keinginan Prabowo untuk menjadikan Indonesia seperti Orde Baru adalah indikasi kemunduran bangsa dimana segala keterbatasan akan kembali dirasakan.

Sosok Prabowo identik sebagai sosok pelanggar HAM berat, bagaimana seorang pelanggar HAM yang memiliki karir militer buruk karena dipecat dari kesatuannya, dapat menjadi pemimpin Indonesia? Mungkin ini juga yang menjadi salah satu penyebab Prabowo sebagai ‘Capres Abadi’.

Masyarakat terutama generasi milenial masih memiliki kesempatan beberapa bulan lagi untuk menentukan pilihannya. Ingat…. suara rakyat sendirilah yang menentukan nasib bangsa Indonesia untuk lima tahun kedepan.  (dewmcf)

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS