Penghina Mbah Mun, Presiden dan TNI di Medsos Berhasil Ditangkap


JAKARTA – Polri berhasil menangkap pelaku penghina ulama besar KH. Maimun Zubair ( Mbah Maimun ) Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang, Jawa Tengah. Pelaku diketahui bernama Ibhas Kiswotomo.

Seperti cuitan netizen Narko dengan nama akun @narkosun di twitter, Ibhas telah ditangkap polisi.

“Alhamdulillah akhirnya Ibhas Kiswotomo, penghina kyai Maimun Zubair, TNI dan presiden Jokowi akhirnya dicyduk,” cuitnya.

Dalam akun facebooknya, Ibhas Kiswotomo memposting tulisan yang tidak beradab untuk seorang Kyai besar Mbah Kun. Ia menulis ” Maimoen Zubir, Lu ko mau diajak PDIP yang alergi dengan “ADZAN”? Bilangnya kamu tokoh NU kharismatik. Ga taunya

ko TENGIK?

Diketahui dari akun facebooknya Ibhas Kiswotomo bertempat tinggal di Surabaya Jawa Timur. Postingan tersebut kontan membuat banyak netizen gerah, karna Ulama sepuh sekaliber Mbah Maimun Zubair ia hina dengan perkataan yang sangat tidak pantas.

Seperti yang kita ketahui , KH. Maimun Zubair adalah ulama besar yang juga Mustasyar PBNU. Beliau merupaka. putra pertama dari Kyai Zubair. Ibunda Mbah Mun adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatis yang dikenal teguh memegang pendirian.

Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam Ilmu Syara’ yang lain. Ayahanda beliau, Kyai Zubair, adalah murid Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky.

Sekitar tahun 45, beliau memulai pendidikannya di Pondok Lirboyo Kediri, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim yang biasa dikenal sebagai Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, Beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali juga KH. Marzuqi.

Menginjak usia 21 tahun, Mbah Mun melanjutkan studinya ke Makkah. Perjalanannya ke Makkah ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu’aib.

Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang kompeten di bidangnya, antara lain Sayyid ‘Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, dan Syaikh Yasin bin Isa Al- Fadani.

Dua tahun lebih Beliau menetap di Makkah. Sekembalinya dari tanah suci, beliau memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama di Jawa saat itu antara lain: KH. Baidlowi (mertua beliau), serta KH. Ma’shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa (ayahanda Mustofa Bisri) Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Sayikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abul Fadhol, Senori.

Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada di sisi kediaman beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar.


Like it? Share with your friends!

0

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS