Pengamat Politik: Hoaks Ratna Sarumpaet Tumpang Tindih dengan Politik Kebohongan


Jakarta – Kabar bohong yang dilakukan kubu oposisi, Ratna Sarumpaet memberi efek negatif. Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra mengatakan, hoaks Ratna Sarumpaet menjadi salah satu cerminan yang kini terjadi di dunia politik Indonesia jelang Pilpres 2019. Bahayanya, Political les dan lies politics itu justru melanda banyak kalangan elite politik yang mengimbas ke lingkungan pemilih akar rumput.

“Political lies dan lies politics itu justru banyak melanda kalangan elite politik yang mengimbas ke lingkungan pemilih akar rumput,” ujar Azra dalam keterangannya, Senin (22/10).

Azra berharap, masyarakat di akar rumput tidak menjadi seperti rumput kering yang sangat mudah tesulut dan terbakar kebohongan politik sumbu pendek. Ia melanjutkan, rangkaian kebohongan Ratna Sarumpaet turut menyeret sejumlah politisi di dalamnya. Hal itu, sudah barang tentu bisa dijadikan senjata bagi khususnya kelompok oposisi dalam hal ini Tim Kampanye Capres-wapres Prabowo-Sandi untuk kemudian memviralkan kasus itu melalui media sosial.

“Tanpa Verifikasi, kebohongan Ratna Sarumpaet segera di viralkan kalangan elite politik pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomer urut 2, dimedia sosial dengan cepat menjadi isu politik” jelasnya.

Penyebaran itu dianggap Azra sebagai cara untuk mendiskreditkan lawan politiknya dalam kontestasi Pilpres 2019 mendatang. Terbukti setelah Polri menyatakan bahwa tidak menemukan bukti hahwa Ratna Sarumpaet dipukuli di Bandung, dan Ratna Sarumpaet pun mengakui perihal kebohongannya itu.

Polri segera menetapkan Ratna Sarumpaet sebagai tersangka dan sejumlah elit politik pun turut diperiksa sebagai saksi dalam kasus Ratna Sarumpaet tersebut.

Dengan begitu dia kemudian menyebut kasus kebohongan politik Ratna Sarumpaet menjadi sangat sarat dan tumpang tindih dengan politik kebohongan yang tanpa bukti, dan tanpa verifikasi kebenaran.

“Politik kebohongan secara sederhana berarti politik tanpa bukti, tanpa verifikasi kebenaran atau ketidakbenaran informasi, fakta dan data terkait” paparnya.

Tanpa proses ini, menurut Azra politik menjadi sarat kebohongan dan manipulatif yang satu tujuannya, mengarah untuk menyerang lawan politiknya dengan membuat isu dan memviralkan isu-isu kebohongan.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS