Ngawur! AHY Sok Pintar Kritik Pemerintah Tanpa Dasar Kuat


JAKARTA – Kelompok oposisi semakin terlihat panik menjelang Pilpres 2019. Setelah semua fitnah dilancarkan kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo dan tidak dapat dibuktikan, kelompok oposisi kini mengerahkan politisi bau kencur, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Sama konyolnya dengan politisi oposisi lainnya, putra Presiden kelima RI ini juga mengkritik pemerintah dengan data tidak valid. Hal itu dikatakan AHY yang merupakan Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat, Sabtu (9/6). Orasi berdurasi 40 menit tersebut bertajuk “Mendengar Suara Rakyat”.
Dalam orasinya tersebut, AHY melontarkan beberapa kritik terhadap pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Berikut kritikan AHY:

1. Daya beli masyarakat
AHY menyebut meski angka-angka indikator makroekonomi relatif baik, kenyataannya di lapangan berbeda. Ia mengatakan, di satu sisi, harga-harga kebutuhan, naik secara signifikan. Di sisi lain, kemampuan dan kesempatan masyarakat makin terbatas untuk memperoleh penghasilan yang layak. Daya beli rakyat memang menurun terutama rakyat berpenghasilan rendah dan kurang mampu.

2. Tarif listrik naik
AHY menuding, selain biaya hidup, pengeluaran rumah tangga juga terus meningkat. Contohnya adalah kenaikan tarif listrik. Pencabutan subsidi listrik untuk golongan 900 VA, berdampak terhadap hampir 19 juta pelanggan rumah tangga.

3. Lapangan kerja
AHY memfitnah, lapangan kerja yang tercipta setiap tahunnya, belum bisa mengimbangi jumlah pencari kerja baru. “Dalam hal kualitas angkatan kerja, kita juga masih punya PR besar. Lebih dari 50 juta orang, angkatan kerja kita, berpendidikan sekolah dasar. Dengan fakta ini, rasanya, tidak mudah bagi kita, untuk bersaing dalam kompetisi global,” ujar Agus.

4. Tenaga kerja asing
Agus menuding, kaum buruh dan pekerja yang ditemuinya mengkritik Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing. Aturan itu kurang berpihak pada mereka.

5. Revolusi mental
Agus berkoar mengenai program Revolusi Mental yang diusung pemerintahan Presiden Joko Widodo. Program Revolusi Mental tampaknya sedikit tersisih dengan pembangunan infrastruktur yang digalakkan oleh pemerintah.

Kritik AHY terhadap pemerintah ini sangat disayangkan. Sebagai politisi seharusnya AHY tidak hanya mengedepankan data berdasarkan ‘katanya’, namun perlu ada kajian yang mendasari pernyataan tersebut.

AHY telah melakukan ‘jumping into conclusion’ karena mengeluarkan pernyataan tanpa bukti yang reliable. Hal ini sangat memprihatinkan karena bila AHY ingin membela kepentingan masyarakat, seharusnya memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai permasalahan yang dihadapi. Bukan hanya sekedar melakukan analisa superficial yang tidak dibekali data objektif.

Sebagai politisi muda yang baru saja merintis karir di dunia politik, sangat disayangkan jika AHY mempraktekkan strategi menyerang pemerintah untuk mendapatkan simpati masyarakat, tanpa mengajukan program alternatif yang dapat bersaing dengan kinerja pemerintah saat ini. Hal ini menjadi kicauan kosong belaka yang bertujuan mendiskreditkan pemerintah.

Pilihan politik AHY ini hanya akan mempertajam polarisasi di tengah masyarakat. Bukan politik santun yang dapat bersaing secara sportif melalui pengajuan program-program kerja. Hal ini menunjukkan ambisi yang tidak diikuti oleh kualifikasi yang matang sebagai seorang pemimpin.


Like it? Share with your friends!

0

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS