Muslim Boleh Ucapkan Natal Yang Penting Tidak Melakukan Ritual Keagamaannya


Jakarta –  Natal merupakan hari raya suci bagi Umat Nasrani di seluruh dunia. Namun, lewat media sosial, pesan berantai ataupun diucapkan langsug oleh seorang Ustadz atau Ulama beredar larangan bagi umat muslim untuk mengucapkan Selamat Natal kepada umat Nasrani.

Menanggapi adanya hal ini, Ketua MUI K.H. Ma’ruf Amin mengatakan, pihaknya tidak melarang adanya umat muslim yang mengucapkan Selamat Natal kepada umat Nasrani. Hal itu kata Ma’ruf dikembalikan lagi ke keyakinan masing-masing.

Namun, kendati demikian, pihaknya mengimbau agar umat muslim tidak ikut melakukan ritual sakramen Natal ataupun pemakaian atribut Natal, karena MUI sudah mengeluarkan Fatwa No.56 Tahun 2016, yang berisi larangan bagi perusahaan memaksakan karyawannya yang bukan beragama Nasrani untuk memakai atribut Natal.

Berikut beberapa Fatwa dan pendapat ulama terkait pengucapan Natal umat Muslim kepada umat Nasrani:

Fatwa Wabah Zuhaili; Tidak ada halangan dalam bersopan santun (mujamalah) dengan orang Nasrani menurut pendapat sebagian ahli fiqh berkenaan hari raya mereka asalkan tidak bermaksud sebagai pengakuan atas (kebenaran) ideologi mereka.

Ketua Persatuan Ulama Muslim Dunia Syekh Dr. Yusuf Qardhawi; Ucapan selamat dibolehkan apabila berdamai dengan umat Islam khsusnya bagi umat Kristen yang memiliki hubungan khusus dengan seorang muslim seperti hubungan kekerabatan, bertetangga, berteman di kampus atau sekolah, kolega kerja, dan lain-lain. Mengucapkan selamat termasuk kebaikan yang tidak dilarang oleh Allah bahkan termasuk perbuatan yang disenangi Allah sebagaimana sukanya pada sikap adil (Allah menyukai orang-orang yang bersikap adil). Apalagi, apabila mereka juga memberi ucapan selamat pada hari raya umat Islam. Allah berfirman: Apabila kalian dihormati dengan suatu penghormatan, maka berilah penghormatan yang lebih baik.

Qardhawi juga menjelaskan bahwa tidak ada hal yang mencegah untuk mengucapkan selamat pada perayaan non-muslim akan tetapi jangan ikut memperingati ritual agama mereka juga jangan ikut merayakan. Kita boleh hidup bersama mereka (nonmuslim) dengan melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan syariah Allah. Maka tidak ada larangan bagi muslim mengucapkan selamat pada nonmuslim dengan kalimat yang biasa yang tidak mengandung pengakuan atas agama mereka atau rela dengan hal itu. Ucapan selamat itu hanya kalimat keramahtamahan yang biasa dikenal.

Syeikh Ali Jumah, Mufti Besar Mesir periode 28 September 2003 – 11 February 2013; Pada 2008 ia mengeluarkan fatwa terkait mengucapkan selamat pada perayaan non-Muslim. Intinya: ucapana selamat itu boleh dan baik.  Mengucapkan selamat pada umat Kristiani dan ahli kitab lain itu boleh. Bahkan menganggap itu hal yang baik yang tidak dilarang oleh Allah dengan syarat tidak ikut bergabung dalam perayaannya terutama yang terkait dengan perkara yang bertentangan dengan akidah Islam.

Habib Umar bin Hafidz (lahir 1963M), Ulama madzhab Syafi’i kharismatik dan pendiri pesantren Darul Mustafa Tarim, Yaman; Sebagaimana diberitakan oleh nu.or.id 27 Desember 2015, ucapan tersebut boleh selama tak disertai pengakuan (iqrar) terhadap hal-hal yang bertentangan dengan pokok akidah Islam.

DR. Mustafa Al-Zarqa; Ucapan selamat natal seorang muslim pada temannya yang Nasrani termasuk dalam kategori mujamalah (sopan santun) pada mereka dan muhasanah (berbaikan) dalam pergaulan. Islam tidak melarang kita untuk bermujamalah dan muhasanah dengan mereka.

Fatwa DR. Abdul Latif Al-Banna; Tidak ada masalah dalam mengucapkan selamat (pada perayaan nonmuslim) khususnya pada kolega kerja, tetangga, atau orang nonmuslim yang ada hubungan khusus seperti mertua dan lainnya. Dengan syarat, tidak berkeyakinan seperti mereka atau rela dengan agama mereka atau syariat mereka yang diharamkan bagi kita sebagaimana pada sebagian makanan dan minuman.

 

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS