MUI: Sesat Jika Agama Dipolitisasi


JAKARTA – Politisasi agama masih terus menggelinding sebagai isu yang sedap digoreng di negeri ini. Perayaan hari besar agama, seperti Natal menjadi salah satu topik yang ikut renyah digoreng oleh sejumlah kelompok. Protes mengenai agama agar tidak dipolitisasi kemudian merebak.

Salah satunya dari opini redaksi di kawasan Senayan yang ditulis Faizal Assegaf (Ketua Progres 98). Menurut Faizal, perayaan Natal yang jatuh setiap tanggal 25 Desember seakan dihebohkan dengan pengamanan yang menjadi proyek penguras uang negara. Pengamanan disebut sebagai politisasi karena pada dasarnya, perayaan Natal berlangsung aman tanpa dihembuskan dengan isu prasangka teroris dan ketakutan.

Faizal mengatakan, kejahatan dan rasa ketakutan adalah dua hal yang saling melengkapi. Golongan manapun yang dihantui oleh ketakutan perlu diperjelas, sehingga tidak menyiram fitnah kepada umat agama lainnya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan politisasi agama untuk kepentingan tertentu haram. Menurut Wakil Sekretaris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan, sikap dan perilaku orang-orang yang mempolitisasi agama untuk kepentingan tertentu sesat.

“Kalau agama dipolitisasi, menyesatkan namanya,” kata Amirsyah, Selasa (26/12).

Ia menambahkan, penyahgunaan agama dan dijadikan alat untuk mempolitisasi suatu kepentingan tertentu adalah menyesatkan dan lebih tinggi dari haram.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kata Amirsyah, para pemimpin harus memahami nilai-nilai agama dan memiliki sikap serta karakter yang berbarengan dengan nilai agama. Ia menegaskan, agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dunia. Agama merupakan landasan etik moral dalam berbagai dimensi, termasuk dalam urusan politik.

Sebelumnya ulama ahli fikih, Kiai Haji Afifuddin Muhajir, dalam seminar dan bedah buku berjudul Fiqih Tata Negara di Pendapa Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur mengatakan hal yang sama. Dia berpendapat menggunakan agama untuk kepentingan politik atau politisasi agama hukumnya haram.

Afifuddin mengimbau masyarakat dan elemen bangsa memperbaiki kondisi negeri secara terus-menerus. Ia mengibaratkan kondisi perpolitikan di tanah air dewasa ini sedang turun dari langit idealis ke bumi realitas.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS