MENGAMBIL SIKAP DALAM MELAWAN HOAKS


Oleh : Paulus Bagus

 

Pendahuluan

Ada sebuah fenomena menarik yang terjadi terkait penyebaran hoaks yang dicatat oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sepanjang tahun 2018, terdapat 733 laporan konten hoaks yang disebar via aplikasi whatsapp.[1] Situasi demikian menjadi compositio loci bagi kita untuk menyambut pesta demokrasi dalam pemilu 2019. Maraknya penyebaran hoaks tentu tidak dapat disepelekan. Bila tidak hati-hati, kampanye pasangan calon-pasangan calon yang berebut suara dari seluruh masyarakat Indonesia yang seharusnya bersifat sehat, malah bisa terjerumus menghalalkan segala cara, termasuk penggunaan hoaks. Di tengah situasi demikian, bagaimana seharusnya kita sebagai pribadi perlu menempatkan diri? Tulisan sederhana berikut hendak menyampaikan sebuah refleksi mengenai identitas manusia dalam dunia digital dalam menghadapi masa kampanye pemilu 2019.

 

Sebuah Masa Pasca Kebenaran (post-truth)?

Maraknya penyebaran hoaks, menurut saya, mencerminkan datangnya sebuah masa pasca kebenaran (post-truth). Apa yang dimaksud dengan pasca kebenaran adalah ketika fakta dan data yang bersifat obyektif benar tidak memiliki kekuatan lagi. Apa yang lebih memiliki pengaruh adalah sentimen identitas yang bermain sedemikian sehingga tidak ada lagi kebenaran yang obyektif. Yang ada adalah kepercayaan-kepercayaan yang ditimbulkan oleh permainan sentimen identitas tadi.

Situasi ini tentu tidak dapat dielakkan mengingat teknologi dan informasi saat ini berkembang dengan begitu pesatnya. Media-media sosial tumbuh bak jamur di musim penghujan di sana-sini. Sayangnya, perkembangan yang baik ini tidak diikuti dengan etika atau kesadaran yang baik dalam berkomunikasi. Akibatnya, media-media sosial menjadi tunggangan bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan hoaks demi kepentingan pribadi atau kelompoknya sendiri.

Hal ini makin relevan mengingat pelaksanaan pemilu terkait erat dengan kepentingan-kepentingan kelompok tertentu. Media sosial menjadi sebuah “kuda troya” yang di dalamnya berisi hoaks-hoaks yang secara masif dan terstruktur disebarkan oleh salah satu pihak demi menjatuhkan pihak lain dalam masa kampanye. Bukankah hal demikian yang terjadi juga di masa kampanye pemilu 2014? Sudikah kita diperdaya oleh taktik yang sama?

 

Merefleksikan Identitas Manusia dalam Dunia Digital

Dalam lalu lalang ketersebaran informasi di dunia digital, bagaimana kemudian manusia mengidentifikasi dirinya sendiri? Ada tiga refleksi yang ingin saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, manusia adalah subyek utama. Apa maksudnya? Bagaimanapun, manusia adalah pelaku utama dalam dunia digital. Ia adalah pelaku utama yang memproduksi pelbagai macam konten yang ada dalam dunia digital. Dengan demikian, manusia sendirilah yang sebetulnya memegang peranan penting dalam dunia digital.

Kedua, akan tetapi, di dalam dunia digital, manusia dengan mudahnya menjadi anonim dan cenderung menjadikan dirinya demikian. Manusia berupaya meminimalisir beban tanggung jawab pada dirinya sendiri. Hasilnya, dalam komunikasi digital kita dapat melihat bahwa manusia dengan mudahnya saling menghina dan memberikan ujaran kebencian dalam pelbagai platform media sosial yang ada. Di sisi lain, sikap “lepas tanggung jawab” ini juga dapat menyebabkan manusia dengan ringannya menyebar berita yang belum tentu mengandung kebenaran. Seorang filsuf bernama Søren Kierkegaard menilai situasi demikian sebagai situasi ketika manusia justru semakin mendegradasi dirinya. Manusia justru tidak berani menampilkan kesejatian dirinya dan bersembunyi di dalam “kerumunan”.

Ketiga, dalam dunia digital, saya berpendapat bahwa rasionalitas seringkali terpinggirkan dan sentimentalitaslah yang cenderung kerap bermain. Apa dampaknya? Dengan mudah, ketika rasa-perasaan sudah dipermainkan, manusia dengan cepat menyebarkan berita-berita yang belum tentu mengandung kebenaran. Yang menjadi prinsipnya adalah rasa suka tidak suka. Selama ia menyukai berita tersebut, lepas dari benar atau tidaknya, ia langsung menyebarkan berita tersebut. Persis di sinilah kita dapat melihat cerminan dari era pasca kebenaran.

 

 

 

Menahan Diri untuk Tidak Menyebar Hoaks

Masa kampanye pemilu 2019 tengah berlangsung. Kampanye ini berjalan di tengah situasi manusia dalam dunia digital sebagaimana telah saya sampaikan. Bila tidak hati-hati, jebakan-jebakan hoaks yang ada di mana-mana siap menggerogoti sentimen identitas dan bukan tidak mungkin menimbulkan konflik dalam realita nyata hidup sehari-hari. Alih-alih memberantas segala macam hoaks yang ada, saya mengusulkan satu cara yang cukup penting dan sederhana bagi kita untuk tetap bisa bersikap jernih dalam masa kampanye pemilu 2019.

Satu cara itu adalah menahan diri untuk tidak menyebar berita hoaks. Bagaimana berita hoaks diidentifikasi? Sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, hoaks bermain dalam ranah rasa perasaan atau sentimen manusia. Ketika sebuah berita dengan begitu hiperbolanya mengaduk-aduk emosi pembaca, maka persis di sana pula kita perlu berhati-hati. Dengan begitu, sikap waspada untuk tidak dengan mudahnya berbagi (share) berita menjadi hal yang sangat diperlukan. Sikap kritis untuk menyaring berita perlu terus-menerus diasah untuk dapat sintas dalam pelbagai konten-konten dalam dunia digital.

 

Penutup

            Posisi untuk berbeda dalam pilihan politik adalah hak tiap warga Negara. Tiap warga Negara tidak pernah boleh dipaksa untuk memilih pasangan calon tertentu. Maka, adu argumentasi dan kreativitas dalam berkampanye dalam pemilu 2019 merupakan hal yang lumrah. Akan tetapi, kewajiban bersama yang tidak boleh diabaikan dan dilupakan adalah untuk membangun aura positif dalam masa kampanye politik 2019, salah satunya dengan tidak menyebar hoaks. Sebagai individu, menahan diri untuk tidak menyebar hoaks adalah langkah konkret yang tidak sulit untuk dilakukan. Mengenai pemberantasan hoaks, biarlah pihak-pihak yang berwajib yang melakukan tugas tersebut.

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

Hidya Tjaya, Thomas. Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta: Gramedia, 2004.

Hong, Howard H. dan Edna H. Hong (eds). The Essential Kierkegaard. New Jersey: Princeton University Press, 2000.

 

 

[1] Lih. https://kominfo.go.id/content/detail/16003/siaran-pers-no-17hmkominfo012019-tentang-tahun-2018-kominfo-terima-733-aduan-konten-hoaks-yang-disebar-via-whatsapp/0/siaran_pers, diakses tanggal 23 Februari 2019 pukul 11.30 WIB.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS