Warning: session_start(): open(/tmp/sess_sk8uc3kj9lnq5sqmcn1brvgnq0, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/bacaaajz/terjitu.com/wp-content/themes/boombox/includes/rate-and-vote-restrictions/vote/class-boombox-vote-restriction.php on line 193

Warning: session_write_close(): open(/tmp/sess_sk8uc3kj9lnq5sqmcn1brvgnq0, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/bacaaajz/terjitu.com/wp-content/themes/boombox/includes/rate-and-vote-restrictions/vote/class-boombox-vote-restriction.php on line 196

Warning: session_write_close(): Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in /home/bacaaajz/terjitu.com/wp-content/themes/boombox/includes/rate-and-vote-restrictions/vote/class-boombox-vote-restriction.php on line 196
Masyarakat Harus Sadar Ancaman Covid-19 Masih Nyata – Terjitu

Masyarakat Harus Sadar Ancaman Covid-19 Masih Nyata


Oleh : Edi Jatmiko )*

 

Fase new normal disalahartikan banyak orang sebagai back to normal. Masyarakat berbondong-bondong untuk kembali ke jalanan, merayakan kebebasan setelah beberapa bulan berdiam diri di rumah saja. Sayangnya mereka juga mengabaikan protokol kesehatan dan malas memakai masker. Mereka lupa bahwa virus covid-19 masih ada dan bahkan makin mengganas.

Sifat masyarakat yang terlalu cuek kadang membuat orang lain miris. Mereka menganggap semua baik-baik saja di era new normal dan melepaskan masker dengan alasan kepanasan. Padahal virus covid-19 masih mengancam dan jumlah pasiennya selalu meningkat, bahkan pernah mencapai 1.000 orang per hari. Malah ada yang tidak percaya akan keganasan corona dan menganggapnya sebagai penyakit flu biasa.

Sebagian orang juga sudah mengabaikan aturan physical distancing. Di daerah Gianyar, Bali, seorang warga negara asing mengadakan acara olahraga yoga bersama dan dihadiri oleh puluhan orang. Dalam acara itu tentu mereka melenturkan badan di atas yoga mat yang jaraknya dekat. Mungkin penyelenggaranya berpikir bahwa kegiatan ini bertujuan membuat tubuh sehat. Namun sekaligus membahayakan karena bisa jadi sarana penularan virus covid-19. Akibatnya sang penggagas, Barekeh Wissam, yang berasal dari Suriah, langsung dideportasi ke negara asalnya.

Di daerah Semarang, ada pula pesta pernikahan yang berujung petaka. Setelah menyelenggarakan acara ijab kabul dan makan-makan, 2 hari kemudian adik sang pengantin dirawat di RS karena kelelahan. Lantas kondisi tubuhnya menurun dan akhirnya meninggal karena corona.

Tak lama kemudian menyusul ibu pengantin yang juga meninggal dunia, sementara sang ayah dirawat di ruang isolasi di RS. Semua jadi korban virus covid-19. Walau dari pihak keluarga pengantin mengaku bahwa acara hanya dihadiri oleh 20 orang, namun bisa jadi mereka lupa akan aturan jaga jarak, sehingga menularkan corona satu sama lain.

Jika sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan? Menikah memang baik, namun acaranya harus benar-benar sesuai dengan protokol kesehatan. Acara yang mengumpulkan massa seperti yoga bersama juga sebaiknya ditunda, sampai keadaan benar-benar aman. Mengapa mereka tidak sabar dan abai akan protokol kesehatan? Padahal peraturan seperti memakai masker dan jaga jarak itu diciptakan demi keselamatan kita sendiri.

Jangan sampai era new normal dijadikan alasan untuk kumpul-kumpul lagi di warung kopi sampai tengah malam atau mengadakan acara reuni sambil nongkrong di restoran. Saat berada di keramaian, masker dilepas agar bisa makan bersama, lalu aturan jaga jarak juga dilanggar.

Memang pikiran kita jenuh setelah berbulan-bulan berada di rumah saja. Namun lebih penting untuk menjaga kesehatan dan keselamatan diri, daripada sekadar reuni. Lagipula acara itu juga bisa dilakukan secara online. jadi tidak usah memaksakan diri.

Hargailah usaha dari tenaga kesehatan yang jadi ujung tombak dalam memerangi corona. Mereka rela bertugas hingga belasan jam dan memakai masker serta baju hazmat yang pengap, demi kesembuhan para pasien. Jika banyak orang yang cuek dan tidak memenuhi protokol kesehatan, lalu terkena corona, maka akan dirawat di RS.

Para tenaga medislah yang menderita karena terkena resiko ketularan virus covid-19. Terbukti, di akhir juni ini ada berita bahwa 50 tenaga medis di Jepara terkena corona. Sehingga RS paling besar di kota itu mengurangi layanan kesehatan. Jika seperti ini, maka pasien lain akan rugi karena tidak bisa dirawat di sana, padahal penyakitnya bisa jadi sudah parah.

Tetaplah mematuhi protokol kesehatan seperti menjaga imunitas dan daya tahan tubuh, memakai masker, dan menjaga jarak. Bersabarlah dan jangan mengikuti acara kumpul-kumpul dahulu, karena bayang-bayang corona masih mengancam di luar rumah. Jangan keluar dari hunian kecuali jika untuk pergi bekerja atau dalam keadaan mendesak.

 

)* Penulis aktif dalam Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini


Like it? Share with your friends!

0

You may also like

DON'T MISS


Fatal error: Uncaught exception 'wfWAFStorageFileException' with message 'Unable to save temporary file for atomic writing.' in /home/bacaaajz/terjitu.com/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php:29 Stack trace: #0 /home/bacaaajz/terjitu.com/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php(567): wfWAFStorageFile::atomicFilePutContents('/home/bacaaajz/...', '<?php exit('Acc...') #1 [internal function]: wfWAFStorageFile->saveConfig() #2 {main} thrown in /home/bacaaajz/terjitu.com/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 29