Kecewa, Keluarga Tak Mau Terima Jenazah Teroris Pengebom Gereja di Surabaya


JAKARTA – Aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, yang dilakukan keluarga Dita Oepriarto (47) mengecewakan pihak keluarga. Meski dikenal memiliki sifat yang baik, aksi Dita bersama istrinya, Puji Kuswati (43) membuat pihak keluarga syok.

“Kami sekeluarga syok, ibu dan bapak saya juga syok. Kami tak menyangka dia (Dita) melakukan itu,” kata Dentri, adik Dita di rumahnya.

Dentri mengaku kesal atas ulah Dita yang dengan tega mengajak keempat anaknya melakukan aksi bom bunuh diri. Ditambah lagi, kini ketenangan keluarganya terganggu setelah menjadi sorotan banyak pihak terkait aksi Dita.

“Otak dia ditaruh mana, kok tega ngajak anak melakukan itu,” tuturnya.

Hal yang sama diakui keluarga Puji. Bahkan keluarga Puji tak bisa ditemui. Yang ada hanya perwakilan keluarga yang memberikan keterangan didampingi Kepala Desa Tembokrejo.

Mendengar kabar Puji Kuswati, sebagai pelaku terorisme bom bunuh diri, pihak keluarga langsung syok. “Semua masih syok, mereka baru tahu dari siaran berita tadi malam,” ungkap Rusiono, perwakilan keluarga.

Keluarga makin prihatin karena mobil Toyota Avanza yang digunakan Dita untuk melakukan serangan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuna, dibeli di Banyuwangi.

Kemudian, keluarga di Banyuwangi kembali membelikan mobil, tanpa diberikan BPKB. Mobil ini yang diduga digunakan untuk meledakkan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS).

“Keluarga kecewa, karena dua kali dibelikan mobil, lalu dijual dengan alasan yang kurang jelas. Akhirnya, dibelikan lagi, tapi tidak diberi BPKB. Mobil itu yang diduga dipakai pelaku,” ujarnya.

Meski sejak kecil diasuh saudara orangtuanya di Magetan, kata Rusiono, keluarga di Banyuwangi selalu peduli dengan keluarga Puji Kuswati. Bahkan, pelaku sempat dibelikan rumah seharga Rp 600 juta di Surabaya. “Semua untuk kepentingan keluarga Puji. Sempat juga memberi kabar jika akan menjual rumahnya, katanya tidak jelas,” tuturnya.

Setelah jenazah Dita dan keluarganya dievakuasi, rencananya mereka akan dimakamkan di TPU Tembok Gede, Jalan Tembok, Gang Kuburan, Tembok Dukuh. Pemakaman ini letaknya tak jauh dari rumah orang tua Dita. Namun sebagian warga menolak jika jenazah Dita dimakamkan di wilayah mereka. “Saya hanya dengar bisik-bisik, ada warga yang tak mau Pak Dita dimakamkan di sini,” ungkap Ketua RT 8 RW 1 Abdul Hamid.

Warga RW 1 Kelurahan Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya pun menggelar rapat untuk membahas rencana pemakaman Dita. Warga di lingkungan rumah orang tua Puji di Banyuwangi juga menolak menerima jenazah wanita ini. Mereka beralasan Puji bukan warga desa setempat.

“Puji bukan warga Banyuwangi. Ya, seharusnya ikut dengan suaminya di Surabaya untuk dimakamkan,” jelas Rusiono

Keluarga Puji tidak berharap jenazah pelaku dan kedua anaknya itu dimakamkan di Banyuwangi. Meskipun punya hubungan darah, kata Rusiyoni, pelaku tidak lagi dianggap sebagai anggota keluarga. Sebab, puji sudah lama berpisah lantaran diasuh oleh saudaranya. Ditambah lagi keluarga sebelumnya tidak merestui hubungan dengan sang suami, Dita Oeprianto.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS