Kampanye Door to Door Bawa Senjata, Mau Kampanye atau Perang?


Oleh : Ananda Rasti*

Empat orang pria di Kabupaten Bireun Aceh diamankan polisi lantaran diduga melakukan tindakan intimidasi kepada sejumlah tim sukses partai politik agar tak mengampanyekan calon yang diusung partainya. Intimidasipun dinilai sangat berlebihan, karena sekelompok orang tersebut mengintimidasi dengan membawa senjata tajam. Dari kubu manakah ke empat orang ini?

“Kita melakukan penangkapan terhadap 4 pria tersebut setelah adanya laporan dari masyarakat bahwa ada beberapa orang yang melakukan intimidasi,” Ujar Kapolres Bireun AKBP Gugun Hardi Gunawan.

Keempat pelaku tersebut adalah Koboy (56), HB (45) AZ (27), warga kecamatan Peusangan, Bireun dan ZE (44) warga kecamatan Gandapura, Bireun yang diamankan Polisi lantaran aksi intimidasinya. Polisi menangkap 4 Pria ini karena mendapat laporan dari masyarakat.

Para tim sukses yang menjadi sasaran  tersebut merasa takut karena kelompok ini datang ke rumahnya pada malam hari secara beramai – ramai dengan tujuan untuk mengintimidasinya. Mereka akhirnya ditangkap di Kawasan desa Bale Setuy, Peusangan.      Petugas Kepolisian juga menemukan barang buktu berupa sebilah parang yang diduga digunakan untuk mengintimidasi warga selama ini. Barang bukti tersebut ada di sebuah mobil yang digeledah polisi.

Kelompok ini diduga merupakan tim sukses dari salah satu partai yang ada di kontestasi pemilu legislatif dan presiden 2019. Mereka datang ke rumah – rumah tim sukses partai lainnya dan mengintimidasi mereka agar tidak lagi mengampanyekan dan menyukseskan calon yang diusung oleh partainya.

Diketahui, pasangan Jokowi – Ma’ruf  diusung oleh 7 partai politik peserta pemilu, diantaranya PDI, Partai Golkar, PKB, PPP, Partai Hanura, Partai NasDem, PKPI dan 2 partai baru yakni Partai Perindo dan PSI. Partai Bulan Bintang pun belakangan menyatakan dukungannya untuk pasangan nomor urut 01 itu. Sementara itu Pasangan Prabowo – Sandiaga didukung oleh 4 partai lama, Partai Gerindra, PAN, Partai Demokrat, PKS dan satu partau baru yakni Partai Berkarya.

Ketua Umum Partai Nangroe Aceh yang juga Gubernur nonaktif Aceh, Irwandi Yusuf menyatakan partainya mendukung Jokowi – Ma’ruf. “Kami sudah buat pengumuman bahwa PNA mendukung Jokowi – Ma’ruf,” kata Irwandi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.

Menilik ke belakang, Prabowo diketahui memenangkan Pilpres 2014 di Serambi Mekkah. Prebowo yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa berhasil mendulang suara 54 % di Aceh mengalahkan Jokowi – JK yang memperoleh 46 % suara.   Namun ternyata kejadian ini tidak dilandasi dengan motif meraih suara terbanyak bagi presiden yang diusungnya. Karena setelah dilakukan pemeriksaan, motifnya hanya mereka takut apabila calon legislatif (Caleg) dari partai yang mereka dukung itu kalah di daerah pemilihannya

AKBP Gugun juga menyebutkan, intimidasi ini terjadi karena ada ketakutan tersebut, maka mereka melakukan intimidasi terhadap timses partai politik lainnya agar tidak mengampanyekan calon yang diusungnya masing – masing.

“Ini  hanya lokalan saja. Tidak terkait dengan Pilpres. Lokalan caleg mereka itu saja. Mereka takut caleg di daerahnya kalah maka melakukan intimidasi itu hasil yang sudah kita dalami,” ujar Gugun.

Gugun juga menuturkan akan terus melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap peristiwa tersebut dan menindak tegas siapapun yang berani mengintimidasi setiap warga dalam berkampanye.

“Kita akan tindak tegas siapapun mereka yang melakukan intimidasi dalam pemilihan legislatif dan Presiden April mendatang,” tegas Gugun.

Yang menjadi tanda tanya besar adalah, mereka yang door to door membawa senjata tajam itu disuruh siapa, dibayar berapa, punya akal sehat apa tidak? Hal ini sangat terlihat jelas, mau pilpres, pilkada atau pilkades sekalipun, cara kampanye dengan mengintimidasi semacam ini merupakan sesuatu yang tak etis dan diharamkan, namun demi mendapatkan tahta, seseorang  bisa buta mata dan menghalalkan segala cara.

Pastinya hal ini tidak akan terjadi apabila para elite politik di berbagai daerah berkampanye secara sportif dan kreatif untuk mendulang suara, sudah sepatutnya elite politik memberikan keteladanan bagi masyarakat maupun tim suksesnya.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan berharap peserta pemilu mampu memanfaatkan masa kampanye dengan efektif dan bijak. Peserta pemilu diminta agar bisa mengadakan kempanye yang mendidik pemilih, bukan hanya sekedar saling menjelekkan. Masing – masing peserta maupun tim sukses harus menawarkan visi, misi, program dan citra diri. Karena jika kemudian masyarakat pemilih dihidangkan saling cemoohan, saling ejek, maka juga akan memberi dampak buruk berupa kegaduhan dengan akhir perpecahan bangsa.

Saat ini teknologi sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat, kampanye door to door dengan membawa senjata tentu merupakan cara yang tidak elok, padahal teknologi sudah semakin canggih sehingga siapapun calegnya dapat memanfaatkan sosial media sebagai salah satu alternatif untuk berkampanye secara murah dan kreatif.

Kampanye kreatif yang bisa dicontoh salah satunya adalah, video produksi sekelompok anak muda creativepreneur yang tergabung dalam satu proyek bernama Cameo Project. Dengan strategi click bait mereka memberi judul yang sedikit kontroversial, maksud mereka adalah memberikan dukungan untuk Ahok tapi dengan cara yang berbeda yaitu menjelaskan bahwa Ahok akan kalah kalau masyarakat Jakarta tidak ingin Jakarta mengalami kemajuan. Jadi kampanye dengan cara mengancancam dan menakut-nakuti, sejatinya merupakan sikap takut akan kekalahan pada kontes demokrasi.

*Penulis adalah Pengamat Masalah Sosial Politik

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS