Jangan Terprovokasi Video Surat Suara Tercoblos Di Sebuah Ruko Di Malaysia


Jakarta – Masyarakat Indonesia diimbau agar tidak mengambil keputusan dan kesimpulan secara sepihak terkait adanya video yang menunjukkan tercoblosnya surat suara paslon 01 di sebuah ‘ruko’ di luar kedutaan Indonesia di Malaysia. Hal tersebut dikatakan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

Pemilu 2019, Warga Negara Indonesia (WNI), baik yang berada didalam maupun luar negeri, diharapkan agar tidak terprovokasi dan termakan hoax.

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terkait peredaran video tersebut dan nantinya pihak yang berwenang, yaitu Komisi Pemlilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), akan memberi pernyataan resminya.

“Masyarakat diimbau tidak mudah terprovokasi terhadap video tersebut sebelum pihak-pihak yang berwenang, dalam hal ini KPU, Bawaslu merilis hasil penyelidikan atau pemeriksaan resmi,” tegas Brigjen Dedi.

Seharusnya surat suara berada dalam pengawasan PPLN, Panwas Luar Negeri dan pihak keamanan di Kedubes sehingga menjadi sebuah keganjilan jika ditemukan di sebuah ruko yang kosong dan di luar kantor kedutaan Indonesia. Amplop surat suara yang ditemukan belum terkirim tetapi sudah dicoblos. Logikanya jika amplop sampai ke tangan penerima tentu akan muncul persoalan.

Kejadian tersebut berkemungkinan sarat dengan kepentingan politik untuk mendelegitimasi Pemilu dan pihak penyelenggara oleh pihak-pihak yang tak siap kalah dengan modus dirty operation.

Sementara itu, masyarakat juga harus mewaspadai beredarnya hoaks terkait  sebaran hasil penghitungan Pemilu di luar negeri yang beredar di media sosial karena sebenarnya proses penghitungan suara baru dapat diketahui setelah tanggal 17 April 2019.

Pihak KPU mengharapkan agar polisi segera menangkap pelaku yang menyebar hoaks hasil penghitungan suara di luar negeri, karena sebaran informasi bohong itu dinilai sudah luar biasa.

Komisioner KPU RI Hasyim Asy’ari di Jakarta, membantah informasi hasil Pemilu di luar negeri yang beredar di media sosial karena penghitungannya baru akan dimulai 17 April 2019 sesuai waktu setempat atau berbarengan dengan jadwal di Indonesia.

Hoax, penghitunganya baru dilakukan pada 17 April. Dapat kami pastikan itu hoax, mengapa demikian? Ada early voting atau pemilihan umum di awal waktu, kalau di dalam negeri 17 April, di luar negeri mulai tanggal 8 hingga 14 April, bisa juga sebelumnya, yaitu pengiriman pos, itu kegiatan pemungutan suara, perhitungannya 17 April, bagaimana mungkin dihitung saja belum tapi udah muncul,” kata Viryan Aziz di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (10/4).

Viryan tegaskan, hanya pemungutan suara saja yang dilakukan lebih dulu di luar negeri. Sementara penghitungan suara tetap dilakukan pada 17 April 2019 di kantor perwakilan luar negeri Indonesia. Masyarakat jangan mudah percaya pada informasi itu dan selalu mengecek lagi informasi yang diterima.

“Kami mengimbau kepada masyarakat jangan mudah percaya kepada informasi yang rasa-rasanya janggal, selalu cek, cek, cek, pastikan informasi yang diterima itu sudah melalui konfirmasi,” jelasnya.
“Iya, itu pun hanya pemungutan suara bukan perhitungan suara, perhitungan suara 17 April, sehingga informasi terkait dengan perolehan suara pemilu luar negeri itu 100 persen hoax pemilu di kantor perwakilan luar negeri Indonesia (KPRI),” katanya.

Patut untuk diketahui, pada tahun 2014 silam, di tempat yang sama juga pernah terjadi kecurangan yang dilakukan oleh pihak Paslon Prabowo-Hatta dengan modus penggelembungan suara memanfaatkan pengiriman surat suara via pos dan drop box.

Seorang saksi mengatakan ribuan surat suara dikirimkan ke kantor sejumlah partai politik cabang Kuala Lumpur. Jumlahnya bervariasi, antara 2.500 dan 3.000. Seorang pengurus partai pendukung Prabowo-Hatta waktu itu mengatakan ribuan surat suara tersebut akhirnya dicoblos oleh anak buah saksi tersebut.  (ene/mcf)

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS