Imam Besar Masjid Istiqlal: Tidak Ada Tempat dalam Agama untuk Terorisme


JAKARTA – Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Dewan Pakar di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Prof. KH. Nasaruddin Umar menengahi persepsi tentang pemberantasan radikalisme-terorisme.

Nasaruddin menjelaskan mengenai jihad. Menurutnya, jihad itu sesuatu yang sangat agung dalam Islam. Jihad untuk menghidupkan, bukan mematikan. Jihad berasal dari akar kata jahada, artinya bersungguh-sungguh. Jihadun, berjuang secara fisik. Secara maksimum. Ijtihad, berjuang dengan nalar, akal pikiran, ilmu. Mujahadah, berjuang dengan hati nurani, doa dan seterusnya.

“Kombinasi antara jihad fisik, ijtihad nalar, dan mujahadah batin, sesungguhnya itu yang disebut dengan jihad dalam al-Qur’an. Jadi jihad itu suatu upaya sungguh-sungguh yang dilakukan seorang hamba untuk memperbaiki keadaan yang tadinya dharuriy menjadi mashalahat. Yang tadinya negatif, jadi positif. Yang tadinya menimbulkan persoalan, sekarang menyelesaikan persoalan,” kata Nasaruddin.

Jadi, kata Nasaruddin, kalau ada yang mengaku melakukan jihad, tetapi malah justru menebarkan ketakutan, jihad malah justru sebaliknya, mencitra-burukkan Islam, jihad malah justru menimbulkan keonaran, jihad malah justru membunuh orang, maka itu bertentangan dengan tujuan jihad. Jihad itu sekali lagi untuk menghidupkan, bukan untuk mematikan orang. Itulah jihadnya Rasulullah.

Ia menjelaskan, seorang itu tidak beragama baik jika melakukan pembiaran terhadap fakir miskin, tidak memberikan jalan keluar untuk mengatasi kemiskinan. Bukanlah seorang Muslim yang baik kalau membiarkan anak yatim piatu itu tanpa melakukan pembenahan masa depan anak itu. Bahkan jihad itu, tidak dimasukkan sebagai orang beriman jika tak melakukan jihad apa pun. Inilah yang disebut dalam QS. Al-Ma’un [107]: 1-3.

“Saya ingin mengingatkan kembali kepada kita semuanya, ya, jihad itu tidak mesti harus tentara, tidak harus dengan pedang, tidak harus menghadapi musuh. Jihad yang sesungguhnya itu, sekarang kan musim hujan, ya sebentar lagi musim panas. Musim hujan ada persoalannya banjir, musim panas ada persoalannya kekeringan. Musim hujan menimbulkan persoalan, nah itu lahan paling baik utuk berjihad, bagaimana memberikan pertolongan terhadap orang yang kebanjiran. Itu medan jihad untuk kita juga.” kata dia.

Dengan demikian, Indonesia ini adalah lahan jihad yang paling subur. Karena itu tidak ada ada alasan bagi orang Indonesia beragama Islam, untuk tidak melakukan jihad. Di samping itu juga masih banyak kebatilan-kebatilan yang perlu mendapatkan pendekatan yang arif bijaksana, supaya menghilangkan kebatilan di sekitar kita. Itu semuanya lahan jihad. Jadi ada wilayahnya jihad, ada wilayahnya ijtihad, ada wilayahnya mujahadah.

Nasaruddin menegaskan jihad harus berangkat dari hal positif.

Pihak yang menyebut terorisme namun membawa Islam, maka orang tersebut membajak Islam. Atas nama Islam tapi melakukan keonaran. Itu malah justru mencitra-negatifkan Islam. Seolah Islam itu harus berdarah-darah.

“Itu keliru. Seolah jihad itu harus ada yang korban. Seolah jihad itu kita harus berhadapan secara fisik dengan apa yang dipersepsikan sebagai musuh-musuh Islam.”

Ia menambahkan, jihad dalam al-Qur’an disebut empat kali al-Qur’an, yaitu wajahidu, tetapi selalu diawali dengan wahajaru. Wahajaru baru wajahadu. Hijrah dulu baru jihad. Makanya Nabi tidak melakukan pemberontakan di Mekah. Beliau memilih untuk hijrah. Nah kalau pun kita melakukan jihad, tiga kali al-Qur’an meyebut, dari harta dulu baru jihad diri sendiri. Itu artinya apa? Nyawa dalam Islam sangat besar dan sangat tinggi artinya. Jadi masyarakat tidak perlu takut dengan Islam, karena menjunjung tinggi apa yang disebut nyawa itu. Jadi kalau ada atas nama jihad, terus gampang melayangkan nyawa seorang, maka itu bertentangan dengan jihad.


Like it? Share with your friends!

0

You may also like

DON'T MISS