Hubungan Kritik dan Literasi Untuk Memberantas Hoax


~Tinggikan IQ mu, maka hoax akan turun dengan sendirinya. Rendahkan IQ mu, maka hoax akan merajalela~

Oleh : Dicky Pramana

 

Percakapan di media sosial seperti twitter, facebook dan sebagainya hari ini justru malah menjadi tempat untuk berternak kebencian, bukan untuk berternak pikiran. Hal itulah yang menyebabkan kemungkinan hoax itu berternak makmur di kehidupan masyarakat kita.  Akibat deteksi itulah yang justru membuat kita khawatir apakah betul kehidupan demokrasi negri ini bisa dilanjutkan bila pengerasan ideologi entah itu terjadi karena sentimen, entah itu karena cognitive bias, atau karena keletihan melihat situasi yang menyebabkan masyarakat menjadi ngeyel. Itu adalah suasana jika dilihat melalui kaca mata sosilogisnya. Begitupun juga dengan suasana akademis, kalau kita perhatikan misalnya argumentasi di ruang kelas.

Kebanyakan mereka menghilangkan substansi dan pergi kepada sensasi dengan guyur istilah, guyur retorika yang sebenarnya di pungut dari situs-situs yang berantakan di internet. Jadi kita pasti akan mulai mencemaskan suatu generasi muda hari ini bisa tidak membawa Indonesia ke dalam pertandingan global, ke dalam situasi yang disebut millenial. Mampu tidak? Dan pembuktian itu agak susah, jika kita membaca indeks kecerdasan matematika, membaca, dan sains itu nomor 61 dari 68 negara.[1] Bayangkan, jadi sekitar nomor 4 sampai 7 dari bawah. Padahal anggaran pendidikan kita 20% dari APBN.[2]

Lalu kita mulai bertanya, bisa tidak ketajaman berpikir itu diukurkan pada jumlah uang negara yang diguyur ke sekolah-sekolah atau institusi-institusi pendidikan. Jika tidak, berarti ada yang salah dan keliru disitu, karena parameternya tidak menunjukkan perubahan. Ini adalah contoh yang sebenarnya bisa menjadi sebuah bahan untuk diskusi anak muda atau mahasiswa yang katanya disebut sebagai kaum millenial. Jadi dalam upaya membentuk pikiran kritis kita harus memperhatikan 2 hal, yang pertama adalah bernalar yang keliru atau bernalar yang palsu atau logical fallacy. Berarti kita harus melihat atau mendeteksi reasoning yang palsu yang dimana itu ada modelnya yaitu cara berpikir logis, kemudian yang kedua itu karena gangguan kognisi, gangguan kognisi itu bisa di artikan yaitu keinginan untuk menuntut lebih dari kenyataan sehingga reasoning kita ditarik oleh keinginan bukan ditarik oleh pikiran atau ada soal yang lain yang masuk ke dalam believe system. Dalam artian ini  ada situasi dimana orang menjadi malas untuk mengambil resiko lalu orang pergi ke dalam fundamen-fundamen epistemologis, fundamen-fundamen teologis, metafisik, maupun kultural.

Sebuah masalah pendidikan di atas tersebut adalah contoh dari cara berpikir kritis untuk menghasilkan sebuah kritik yang kita peroleh melalui analisis, karena memberi kritik artinya menganalisis. Tidak ada kritik tanpa analisis,  analisis dalam tradisi ilmu pengetahuan artinya mengurai. Nah dalam pembicaraan seperti ini selalu ada saja orang yang ngeyel, jika kita memberika kritik lalu apa solusinya? Solusi adalah bukan substansi dari kritik. Terus tidak ada gunanya dong kritik? Jika saya beri simulasi seperti ini “Hey kamu jangan duduk di rel kereta api!”, dia menjawab “terus saya harus duduk dimana?”,  “Duduk di kursi itu aja” ujarku, “Kan kursi itu keropos, terus harus kemana?” jawabnya. Jadi dari simulasi tadi bisa kita ambil kesimpulan yang awalnya saya mengkritik jangan duduk di rel berubah menjadi dia harus duduk dimana? Padahal solusi itu bukan esensi dari kritik, jika pun ada solusi berarti itu hanyalah sebuah bonus semata.

Memberi kritik adalah fungsi primer menjadi manusia, didalam kritik seharusnya ada solusi didalamnya. Jadi orang yang menunggu untuk diberi solusi artinya dia tidak ingin dikritik, dia mencoba untuk menunda pembicaraan dengan mengalihkan persoalan. Hal inilah yang terjadi hari ini, mereka tidak mau dikritik, jika dia tidak mau dikritik seharusnya dia bertahan pada kritik tersebut. Bukan membalikkan persoalan dengan “Lalu solusinya apa?”.  Kemudian dimana posisi literasi di dalam contoh kasus rendahnya tingkat pendidikan Indonesia tersebut? Padahal literasi sangatlah penting bagi kita sebagai manusia.

Jika peringkat pendidikan kita rendah, berarti itu terjadi karena rendahnya situasi literasi di kehidupan masyarakat kita hari ini. Bila suasana bermasyarakat itu tidak dialiri oleh pertukaran ide, karena literasi adalah pertukaran ide. Maka kritik tidak mungkin diaktifkan. Bahwa literasi hanya bisa disebut literasi bila menghasilkan ide, contoh jika kita baca buku kemudian kita bedah buku bersama untuk mengkaji itu adalah sebuah literasi. Jadi semakin kita sering bertransaksi ide, maka disitu ada literasi. Literasi tidak akan terjadi bila tidak ada duel argumen dengan tujuan untuk mengedukasi. Artinya harus timbul sebuah kontroversi untuk menumbuhkan argumentasi pemikiran yang bermaksud untuk saling mengedukasi.

Lalu dimanakah bias di dalam kognisi seperti yang saya tulis di atas tersebut atau ada asal usul sosial di dalam fanatisme. Di dalam sistem budaya kita dianggap bahwa mengajukan pikiran secara terang-terangan itu artinya menghina, oleh karena itu ada makna di balik simbol mengapa kris selalu diletakkan dibelakang tubuh kita. Justru itu yang berbahaya sebetulnya, karena orang tidak tau bahwa anda punya peralatan yang tak terlihat. Didalam perang oke, tetapi jika didalam kehidupan politik demokrasi senjata kita harus diletakkan diatas meja.

Soal tadi literasi, yang dimana merupakan deteksi kecil bisa membuat kita masuk kedalam kebudayaan politik hanya karena literasi. Kita bisa analisis kebijakan negara, ataupun kehidupan sosial publik masyarakat hanya dengan satu istilah literasi. Ucapkan saja satu konsep, maka kita akan cari bersama dan kita rumuskan bersama hingga sampai pada wilayah keputusan. Jadi awal mula dari sebuah kritik adalah literasi, dimana literasi tersebut akan menghasilkan sebuah diskusi berupa argumentasi yang tentu akan mengedukasi masyarakat. Sehingga kritik bisa diaktifkan, karena didalam argumentasi tadi terdapat analisis. Itulah yang akan membuat konsep masalah yang bernama hoax tadi bisa dicegah bahkan tidak akan berkembang di masyarakat sama sekali jika literasi itu diaktifkan. Karena literasi itu berarti mengaktifkan transaksi ide antar masyarakat. (jtj)

.

[1] Berdasarkan studi dari “Conclusion of the Organization for Economics Cooperation and Development (OECD 2015).

[2] Data APBN 2017

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS