Hoax Pilpres 2019 Itu Berat


Icha Sofia Nurazizah

Di era milenial ini internet sudah dapat diakses dimanapun, kapanpun dan diberbagai kalangan. Terutama media online seolah sudah menjadi kebutuhan primer, tanpa media online kehidupan seakaan akan tertingal zaman dan informasi. Dalam media online seseorang dapat mengakses berbagai macam informasi, baik informasi baik maupun buruk selain itu semua orang dapat secara bebas mengungkapkan pendapatnya atau bahkan menyebarkan berbagai macam berita tanpa batas,  sehingga muncul lah berbagai macam hoax.

Pengertian hoax sendiri adalah informasi yang tidak benar. Dalam cambridge dictionary, kata hoax sendiri berarti tipuan atau lelucon. Kegiatan menipu, trik penipuan, rencana penipuan disebut dengan hoax (http: //dictionary.cambridge.org). Hoax menciptakan keresahan tersendiri bagi masyarakat, terutama menjelang pemilu 2019. Hoax menjadi membumi sebagai akibat ingin menjatuhkan kubu kedua belah pihak. Catatan Mafindo, mengatakan dari 86 berita hoax terdapat di dalamnya 52 berita hoax megenai pemilu 2019. Kejadian ini sangat membuat pilpres 2019 ini terlihat tidak karena digunakan untuk menyebarkan politik kebencian yang dikhawatirkan bisa mengoyak persaudaraan bahkan menjurus ke arah konflik sosial.

Ini tentunya menjadi perhatian penting bagi kita semua terutama sebagai generasi milenial yang sering menggunakan media online untuk ikut mencegah, karena jika dibiarkan hoax akan merusak demokrasi, ideology dan akan menghancurkan kesatuan dan persatuan bangsa. Pemerintah tentunya sudah melakukan berbagai macam kegiatan seperti gerakan bersama anti hoax yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama elemen Masyarakat Indonesia Anti Hoax. Atau mungkin sudah ada beberapa kasus penyebaran hoax yang ditangani. Namun yang terpenting dari itu adalah kesadaran dari masyarakat sendiri akan bahaya hoax . Mirisnya, hoax ini terjadipun karena kurangnya tingkat literasi masyarakat terhadap media online. Literasi bermedia sosial yaitu kemampuan memiliki akses ke media, memahami media, menciptakan dan mengekspresikan diri untuk menggunakan media (Buckingham 2005, Livingstone 2005).

Kita pula sebagai the agen of change, tentunya harus turut ikut serta dalam perlawanan terhadap hoax yang dimungkinkan akan terus beredar menjelang pilpres 2019 ini yaitu dengan ikut serta menyebarkan di dalam media sosial mengenai bahayanya hoax baik melalui poster atau dengan menghimbau ciri-ciri dari hoax yaitu:

  1. Hoax biasanya tidak mencantumkan tanggal kejadian atau tidak terverifikasi
    kejadianya, seperti tanggal dan urutan kejadian.
  2. Hoax biasanya tidak memiliki tanggal kadaluwarsa pada peringatan informasi, meskipun sebenarnya kehadiran tanggal tersebut juga tidak akan membuktikan apa-apa, tetapi dapat menimbulkan efek keresahan yang berkepanjangan.
  3. Hoax tidak ada ahli atau sumber teridentifikasi yang dikutip.

Kita juga harus menghimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan literasi terhadap media online dengan memfilter berita yang masuk mengenai Pilpres 2019. Bahwa tidak semua berita update itu benar. Jika ada berita yang tidak diketahui asal-usulnya tidak disegerakan untuk disebar, jika ada konten bermasalah ke Kementerian Kominfo melalui aduankonten.id, ke Bawaslu untuk konten terkait pemilu, dan Polri untuk konten pelanggaran hukum.

Mengapa kita harus begitu? Karena seharusnya di era Pilpres ini masyarakat memanfaatkan untuk melihat visi dan misi dari kedua calon, untuk menjadi acuan kemanakah hak suara pantas diberikan, bukan malah mempercayai hoax yang malah menjatuhkan antar kubu. Selain itu kita peringatkan bahwa hoax pilpres 2019 itu BERAT, mengapa demikian? Karena jika kita terbawa hoax dalam Pilpres ini, kita akan meggantungkan masa depan Indonesia selama 5 tahun kedepan hanya karena hoax.

Apakah itu masa depan yang kita harapkan? Tentunya tidak. Dengan itu marilah kita ajak masyarakat untuk berfikir kritis terkait informasi yang beredar, ikut serta menjadi siskamling digital demi suksesnya pemilu yang damai, berkualitas dan bermartabat sehingga masa depan Indonesia yang tidak bergantung pada hoax baik melalui media sosial atau media masa. Ingat hoax itu BERAT. Berat resikonya dan berat dampaknya.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS