Hitungan KPU Lebih Akurat Dibanding Aplikasi Ayo Jaga TPS


JAKARTA – Selain Jurdil 2019, ada aplikasi dan situs web lainnya yang memenangkan calon presiden nomor 02, Prabowo Subainto-Sandiaga Uno dengan persentase suara 62 persen, yakni Ayo Jaga TPS. Hasil aplikasi itu sama persis yang diklaim Prabowo saat mendeklarasikan kemenangan.

Ayo Jaga TPS ini digagas oleh James Falahuddin merupakan aplikasi Ayo Jaga TPS yang berbasis crowdsourcing, yakni mengajak masyarakat untuk mengunggah foto formulir C-1 Plano. James mengklaim data tersebut sudah melalui verifikasi ketat dan registrasi data diri yang komplet dan bisa dibuktikan. “Kita juga minta foto KTP mereka, kita pastikan sumber dari TPS dia mencoblos,” kata James.

Berdasarkan pantauan di situs ayojagatps.com, data yang masuk tidak berubah pagi hingga siang hari ini (Minggu, 21/4). Data suara masuk menurut situs tersebut sebanyak 6.842.952 dengan jumlah TPS 33.383.

Dengan jumlah tersebut, Prabowo-Sandi diklaim situs tersebut sebagai pemenang dengan persentase 62,83 persen dan Jokowi-Maruf hanya 37,17 persen. Sayangnya, situs ini penuh kejanggalan. Tabulasi di situs webnya tidak dilakukan secara real time. Tabulasi suara dilakukan dengan unggahan fail berformat jpg. Artinya, itu gambar saja yang diunggah.

Hal ini berbeda dengan rekapitulasi suara milik Komisi Pemilihan Umum atau crowdsourcing lain misalnya kawalpemilu.org. Kedua situs menampilkan data secara real time dan bukan format gambar seperti ayo jaga TPS.

James mengaku bukan lembaga survei. Jadi, tidak ada margin of error. “Kami bukan lembaga survei, ini bukan quick count tapi kami cuma mengumpulkan C1 dari para penjaga AyoJagaTPS lalu kita verifikasi dan kita publish,” jelas James. “Kita cuma masukkan dan jumlahkan data, tiap TPS dari tiap kelurahan kecamatan ke provinsi sampai nasional ya udah data itu yang kami tampilkan,” ucap James.

Cara kerjanya, ditilik dari situs ayojagatps.com, relawan bisa mengunggah informasi C-1 di tiap TPS. Format unggahannya pun hanya memakai google form. Ini sungguh aneh, terlihat seperti lembaga yang tidak kredibel.

Dalam formulir, pengunggah nama, nomor KTP, nomor telepon, jumlah suara 01 dan 02, jumlah suara tidak sah, sisa suara, total suara, nomor TPS, alamat TPS, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, Kelurahan, dan terakhir mengunggah formulir C-1.

Tak jelas bagaimana sistem verifikasi. Tak jelas pula cara Ayo Jaga TPS bekerja. Sebab, aplikasi itu tidak transparan. Anehnya lagi, tidak ada rekapitulasi suara legislatif. Artinya, mereka hanya menjaga suara untuk Pilpres.

James, pendiri AyoJagaTPS. pada 2014 sendiri menanyakan cara crowd source pada Pilpres 2014 mengolah data dan informasi dan meminta masyarakat menunggu hasil KPU. Namun, pada 2019, ia membuat crowd source yang lebih tidak jelas cara dan menganalisis informasi.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS