FPI dan PA 212 Kembali Bawa Isu Provokatif


JAKARTA – Front Pembela Islam (FPI) dan Persaudaraan Alumni 212 kembali berulah. Seperti yang dilakukan Ketua Umum DPP FPI Ustadz Ahmad Sobri Lubis. Ia akan melakukan audiensi dengan pimpinan DPR RI untuk membahas dua isu kemanusiaan. Antara lain meninggalnya ratusan petugas KPPS di Pemilu 2019.

“Jumat besok Gerak Kemanusiaan ba’da dzuhur akan datang ke DPR,” kata Sobri dalam konferensi pers Gerak Kemanusiaan di Sofyan Hotel Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2019).

Ia menyatakan bahwa kegiatan tersebut bukanlah aksi unjuk rasa, melainkan adalah perwakilan dari delegasi beberapa ormas yang tergabung dalam Gerak Kemanusiaan. Tujuannya adalah mempertanyakan sikap dari pimpinan DPR terkait dengan kasus yang akan dibawa itu.

“Ini bukan aksi tapi delegasi utusan pimpinan ormas-ormas, kita ingin pertanyakan DPR melihat mati orang ratusan apa kerjanya,” ujar Sobri.

Selain meninggalnya ratusan petugas KPPS di Pemilu 2019, Sobri mengatakan bahwa delegasi dari Gerak Kemanusiaan juga akan membahas tentang kasus kematian dalam tragedi tanggal 21 dan 22 Mei 2019 di Jakarta Pusat. Termasuk juga masyarakat yang mendapatkan sikap kekerasan dan masih dipenjara usai tragedi tersebut.

“Belum lagi kekerasan brutal dan kematian 21 dan 22. Ada penganiayaan di dalam penjara, ada yang disetrum kepalanya, digetok (dipukul -red) pakai besi dan lain-lain,” ujarnya.

Bagi Sobri, DPR sebagai lembaga legislatif harus bersikap secara tegas terhadap dua kasus yang akan dibawanya nanti. Ia berharap agar tidak ada anarkisme dari masyarakat karena lembaga pemerintah tidak bersikap apapun dalam kasus kemanusiaan itu.

“DPR harus turun tangan supaya bangsa Indonesia ke depan tidak menjadi negeri bar-bar,” tegas Sobri.

Shobri Lubis menampik anggapan jika gerakan ini dilakukan untuk melindungi Habib Rizieq Shihab yang hingga saat ini masih belum bisa pulang ke Indonesia.

“Habib Rizieq itu tidak pernah takut untuk kembali ke Indonesia, tapi beliau memang tidak bisa kembali karena dicekal. Justru ada yang takut jika Habib pulang ke Indonesia,” ungkap Shobri.

Shobri menegaskan gerakan mereka kini tidak lagi ada hubungannya dengan peristiwa politik, tetapi murni perjuangan untuk menegakkan syiar Islam di Indonesia agar jangan sampai umat Islam sebagai mayoritas justru selalu disudutkan.

“Jadi sudahlah, jangan tarik-tarik Habib Rizieq dalam urusan ini. Gerakan kita murni untuk mencegah kezoliman, kemungkaran, dan menegakkan keadilan,” tutupnya.

Sementara itu Ketua Persaudaraan Alumi 212 Slamet Maarif menegaskan gerakan mereka tidak lagi ada kaitannya dengan hasil Pilpres 2019. Saat ini mereka tetap akan fokus memperjuangkan nilai-nilai keislaman sesuai dengan semangat awal terbentuknya gerakan 212 sehingga kehormatan umat islam tetap dapat terjaga.

“Kalau kita memperjuangkan nilai-nilai islam, memperjuangkan semangat 212 pasti akan menimbulkan semangat baru untuk menghadapi persoalan baru, untuk mencapai kemenangan yang dijanjikan oleh Allah,” tegasnya.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS