Elektabilitas Turun, TKN Jokowi Akui Sibuk Tangkis Gimmick Kubu Prabowo


AKARTA – Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Raja Juli Antoni, tidak membantah hasil analisis PARA Syndicate tentang penyebab menurunnya tren elektabilitas Jokowi-Ma’ruf. PARA Syndicate sebelumnya menyebut turunnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf karena pasangan capres-cawapres nomor urut 01 itu dan tim suksesnya sibuk bermain di genderang lawan.

“Kami sangat sibuk dalam mengklarifikasi berbagai macam gimmick yang biasa dilakukan tim lawan. Mengklarifikasi fitnah dan hoaks tepatnya,” kata Raja ketika dihubungi, Minggu (16/12/2018).

Menurut dia, pihak lawan dan timsesnya sering melontarkan isu-isu yang dianggapnya tidak benar. Contohnya, isu mengenai kenaikan harga-harga bahan pokok.

Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni ketika memberikan keterangan pers di Kantor DPP PSI, Jakarta, Jumat (1/6/2018).

Oleh karena itu, tim sukses Jokowi-Ma’ruf mengklarifikasinya agar masyarakat tidak termakan isu itu. Raja mengatakan, hasil analisis PARA Syndicate akan menjadi masukan bagi TKN Jokowi-Ma’ruf dalam menyusun strategi ke depan. Selain itu, koordinasi antara tim Jokowi dan tim Ma’ruf Amin juga akan ditingkatkan lagi. “Pada intinya, ini adalah masukan baik yang akan dipergunakan untuk perbaikan ke depan,” ujar Raja.

“Kami akan rumuskan cara-cara yang lebih efektif untuk meyakinkan pemilih bahwa Pak Jokowi masih menjadi pemimpin terbaik di negeri ini,” tambah dia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo menilai, menurunnya tren elektabilitas Jokowi-Ma’ruf karena retorika kampanye yang diperlihatkan pasangan nomor urut 01 itu beserta tim suksesnya yang cenderung reaktif terhadap isu yang dilempar pesaingnya. “Dinamika kampanye cenderung reaktif dan responsif, dan nampak sekali bahwa timses, bahkan Pak Jokowi sendiri sempat hanyut pada genderang yang dimainkan lawan,” ungkap Ari saat merilis hasil perhitungan tersebut di kantor PARA Syndicate, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (14/12/2018).

Menurut dia, hal itu tercermin dari istilah politisi “sontoloyo” dan politik “genderuwo”, yang sempat dilontarkan Jokowi. Ari berpendapat, kesibukan menangkal isu dari lawannya membuat topik mengenai rencana pembangunan Indonesia lima tahun ke depan terabaikan.
Program Nawacita II dinilai Ari belum digemakan. Faktor lain yang berpengaruh terhadap menurunnya tren elektabilitas adalah strategi kubu Jokowi-Ma’ruf yang disebutkan Ari bersifat monoton dan linear. Kemudian, peran Ma’ruf sebagai cawapres belum signifikan untuk mendulang suara.

Menurut Ari, pembagian peran untuk menarik suara belum terlihat. Kesimpulan itu setelah PARA Syndicate menganalisis hasil survei 12 lembaga.


Like it? Share with your friends!

0

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS