Di Bawah Pemerintahan Jokowi-JK, Impor Premium Berhasil Diturunkan


JAKARTA – Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memang luar biasa. Di bawah kepemimpinannya, Jokowi berhasil menekan impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

Berdasarkan data 2015, Jokowi menurunkan volume impor Premium hingga 37% dari 378,5 ribu barel per hari menjadi 236 ribu barel per hari. Impor solar turun 84% dari 121,3 ribu barel per hari menjadi hanya 20 ribu barel per hari.

“Selain konsumsi juga mengalami penurunan, juga disumbang oleh optimalisasi produksi dalam negeri. Sehingga kebutuhan impor bisa dikurangi,” kata Sudirman Said, Mantan Menteri ESDM.

Sudirman menambahkan, pemerintah Jokowi mengambil keputusan besar yakni mengambilalih kilang yang dikelola PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Langkah ini merupakan bagian dari optimalisasi infrastruktur di dalam negeri dalam penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional.

“Berkat ketegasan pemerintah, kilang minyak TPPI diambil alih Pemerintah. Sekarang sudah berproduksi 80%,” tuturnya.

Di sektor produksi, pemerintah berhasil meningkatkan kapasitas penyimpanan BBM nasional. Hal ini sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional secara umum. Kapasitas tangki dari 4,6 juta kilo liter di 2014 naik 12% menjadi 5 juta kilo liter. Dengan demikian, ketahanan stok BBM nasional juga naik 20% dari 24,3 hari di 2014 menjadi 29,3 hari di 2015.

Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Daniel Purba mengatakan, PT Pertamina (Persero) mencatat impor bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium turun 30 persen dari Agustus hingga rencana Oktober 2016. Penurunan itu dikarenakan peralihan konsumsi masyarakat dari Premium ke Pertamax.

“Kalau kita lihat dari 7,8 juta barel pada Agustus menjadi 5,4 juta barel pada Oktober, penurunannya hampir 30 persen,” kata Daniel.

Menurut Daniel, impor premium menurun dari 7,8 juta barel pada Agustus, menjadi 6,9 juta barel pada September, kemudian 5,4 juta barel pada Oktober. Tren penurunan impor Premium diperkirakan terus berlanjut sampai akhir tahun.

Dengan meningkatnya permintaan, impor Pertamax pun meningkat dari 1,4 juta barel pada Agustus menjadi 2,7 juta barel pada September dan akan meningkat kembali menjadi 3,1 juta barel pada Oktober 2016.

Ia menambahkan impor Pertamax hanya untuk menyeimbangkan kebutuhan konsumen dan berharap fasilitas pencampuran (blending) di Tanjung Uban yang diperkirakan selesai konstruksi pada November mendatang, dapat menurunkan impor BBM.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS