Anies Baswedan Si Kutu Loncat Jika Benar Maju Pilpres 2019


JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan digadang-gadang diusung oleh sejumlah partai oposisi maju di kontestasi Pemilihan Presiden 2019. Namun Anies yang belum genap setahun memimpin Jakarta ini diminta untuk tidak terpancing dan tetap pada komitmen menjabat sebagai Gubernur selama lima tahun.

Pengamat Politik dari UIN, Pangi Syarwi Chaniago meminta Anies menahan diri dan tidak terpancing keinginan politik pragmatis dari pengusaha.

“Jangan terpancing keinginan kelompok yang ingin menjadikan dia sebagai tameng atau boneka untuk kepentingan pengusaha, pebisnis, atau kepentingan yang lain. Anies harus sadar itu. Jangan sampai dia diperalat oleh pemburu rente kekuasaan,” kata Pangi saat dihubungi, Selasa (10/7).

Pangi juga mengingatkan Anies jika maju di Pilpres merupakan preseden buruk bila jabatan gubernur DKI Jakarta hanya dijadikan batu loncatan. Ia menyarankan Anies tetap menyelesaikan masa jabatannya sebagai gubernur Ibu Kota.

“Anies harus meninggalkan tradisi kutu loncat yang tidak menyelesaikan masa jabatan ini, karena tradisi ini tidak baik, tradisi yang tidak perlu diteruskan. Tradisi bahwa yang dilakukan Jokowi pun salah sebetulnya,” ujarnya.

Jika Anies ngotot maju mengikuti tradisi Jokowi, Pangi berpendapat, hal itu akan menjadi mimpi buruk bagi masyarakat DKI Jakarta ke depanya. Ada gubernur yang hanya 1,5 tahun, bahkan ada yang belum genap satu tahun sudah lompat meninggalkan jabatan.

“Kalau Anies pernah berjanji bahwa tidak akan meninggalkan Jakarta, ketika janji itu masih ada sampai sekarang dan masyarakat masih pegang janji itu, ini jadi blunder, jadi bunuh diri kalau Anies memaksakan kehendak,” tuturnya.

Pangi menambahkan, Anies jangan sampai diperalat partai karena memiliki elektabilitas yang baik. Seperti terjadi saat Pilkada seretak beberapa waktu lalu, banyak partai yang memanfaatkan figur populer dan elektable untuk mengangkat suara partai.

Sementara itu, Anies Baswedan mengakui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, perihal rekomendasi atas laporan keuangan dari Badan Pemeriksa Keuangan perwakilan DKI Jakarta. Anies menuturkan, dari paparan BPK, sebanyak 8.700 rekomendasi BPK senilai Rp 16,9 triliun. Dari hasil tersebut sebanyak 6.219 rekomendasi yang sudah ditindaklanjuti.

“Ada banyak pekerjaan rumah yang harus kita tuntaskan, selain hasil laporan tahun 2018, tapi juga merujuk temuan-temuan atau pekerjaan rumah yang selama ini belum selesai. Jadi tadi ditunjukkan dari tahun 2005 sampai 2018, ada 8.700 rekomendasi yang nilainya sekitar Rp 16,9 triliun. Yang sudah selesai ada 6.219 rekomendasi atau 71 persen,” ujar Anies di Kantor BPK Perwakilan DKI Jakarta, Jakarta Selatan, Selasa (10/7/2018).

Tak hanya itu, Anies menuturkan masih ada 28 persen atau 2.481 temuan yang belum ditindaklanjuti. BPK kata Anies memberikan tenggat waktu selama 60 hari ke depan untuk menindaklanjuti rekomendasi temuan tersehut.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS