Analis Nilai Pasangan Hasanah Bisa Jadi Kuda Hitam Pilgub Jabar


BANDUNG – Berdasar survei yang dirilis oleh ILMA Research and Consulting usai debat kedua Pilgub Jabar, pasangan Hasanah yang diusung PDIP ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dan bersaing ketat dengan kandidat lain, dengan perolehan suara 19,5 persen.

Dengan tren positif tersebut, Direktur Eksekutif Eksplorasi Dinamika dan Analisis Sosial (EDAS) Wawan Gunawan menilai bukan mustahil Hasanah bisa menjadi kuda hitam dan memenangi Pilgub Jabar.

“Kalau mesin partai dan para pentolan PDIP serta pengusungnya serius, bukan tidak mungkin (Hasanah) akan menjadi kuda hitam. Karena kan tidak bisa disandarkan kepada dua orang paslon. Harus dikeroyok,” ujar Wawan.

Menurut Wawan, kerja keras dan gotong royong adalah kunci Hasanah untuk mempertahankan tren positif elektabilitas yang sudah ada.

“Ideologi gotong royong yang selama ini diusung oleh PDIP diuji. Kalau memang masih konsisten dengan gotong royong, bisa menang kalau dipakai itu prinsip ideologi gotong royong,” ujarnya.

Menurut dosen di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) ini, sisa 30 hari kampanye adalah waktu yang sangat cukup bagi Hasanah untuk terus meroket.

“Tinggal didorong bener-bener semua komponen yang menjagokan Hasanah, harus bekerja habis-habisan,” tegasnya lagi.

Wawan mengingatkan, 31 juta pemilih di Jabar itu mayoritas rakyat kecil, segmen masyarakat yang paling diperjuangkan PDIP. Oleh karenanya, sifat kegotongroyongan juga diyakini masih melekat di sebagian besar rakyat Jabar.

“Jadi kalau itu (gotong royong) digunakan dengan baik, tidak menutup kemungkinan Hasanah bisa menyalip yang lainnya. Karena kan ada kelemahan di paslon lain yang sudah merasa unggul. Biasanya kalau yang sudah unggul, ah tenang aja da bakal menang ini. Jadi aja males,” bebernya.

Dia menilai Hasanah punya keunggulan di banding pasangan lain, yakni program-program yang mudah dicerna oleh kebanyakan masyarakat Jabar di pedesaan. Hal ini juga yang membuat Hasanah, masih menurut survei ILMA, unggul dalam debat kedua Pilgub Jabar 2018.

“Dibandingkan dengan yang lain begitu, masyarakat lebih mudah mencerna. Masyarakat yang mana? Masyarakat yang kebanyakan di Jawa Barat, bukan masyarakat di pusat-pusat kota, urban,” ujarnya.

“Mungkin kalau masyarakat urban lebih ke pasangan yang lain. Orientasinya programnya lebih teknopolis, inovatif. Tapi kan jumlah masyarakat Jawa Barat di daerah itu kan jauh lebih banyak ketimbang masyarakat yang di perkotaan,” katanya.

Sebagaimana diketahui, survei ILMA yang dilakukan pada 15-20 Mei 2018 menunjukkan tiga paslon Pilgub Jabar 2018 bersaing ketat dengan selisih elektabilitas yang tipis. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) 28,63 persen, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2D) 27,88 persen, Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) 19,50 persen, dan posisi paling buncit Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) 5,13 persen. Sementara responden yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab 18,88 persen.

Survei ILMA juga mengonfirmasi Hasanah sebagai pasangan yang paling baik saat debat kedua, yakni dengan persentase 16,63 persen. Selanjutnya, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2D) dengan 15 persen, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) 14,13 persen dan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) 9,13 persen. *

Sumber: Merdeka com


Like it? Share with your friends!

0

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS