Alihkan Perhatian Pembahasan APBD DKI 2019, PKS dan Gerindra Atur Drama Kursi Wagub


JAKARTA – Drama penetapan calon wakil gubernur DKI Jakarta masih terjadi hingga kini. Direktur Komunikasi LAPI Odorikus Holang meminta agar PKS dan Gerindra segera mengakhiri drama tersebut.

Holang menilai, drama wagub DKI berhasil menyita perhatian publik. Ia menyebut, pembahasan APBD DKI Jakarta tahun anggaran 2019 jangan sampai terlupakan.

“Gerindra dan PKS sebaiknya hentikan drama soal perebutan kursi DKI II. Jangan selalu membuat drama dengan membarengi proses pembahasan APBD DKI,” ucap Holang kepada wartawan, Rabu (21/11) malam.

Sementara itu, dia menyarankan agar publik jangan terkecoh dengan lamanya proses penetapan penghuni kursi DKI II tersebut. Menurutnya yang terpenting saat ini adalah proses pembahasan APBD DKI Jakarta.

“Itu yang harus kita ‘pelototi’, masih ingat kan saat Ahok ungkap anggaran siluman yang pernah terjadi pada RAPBD tahun 2015, kita bukan menuding tapi itu menjadi pelajaran bagi publik,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Gerindra dan PKS akhirnya sepakat bakal membentuk Badan Seleksi wagub untuk menguji calon wagub baru dari PKS.

Badan seleksi itu rencanya bakal diisi oleh dua orang kader PKS dan dua orang Gerindra, seperti ketua fraksi PKS Abdurahman Suhaimi, Syakir Purnomo, Syarif dan peneliti LIPI Siti Zuhro.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Luky Sandra Amalia mengaku kecewa kepada Gerindra dan PKS yang terus berpolemik soal wakil gubernur DKI Jakarta pengganti Sandiaga Uno. Padahal, persoalan yang dihadapi Pemprov DKI kini kian berat.

Menurut dia, polemik tersebut membuktikan bahwa kedua partai tak peduli dengan kepentingan warga ibu kota. “Parpol kembali meletakan semata kepentingan politik partai atau mengakomodasi masyarakat Jakarta, maunya apa. Perilaku politik seperti ini jelas tidak bagus karena merugikan publik, ” ujarnya di Jakarta, Senin (29/10).

Luky merasa heran, kenapa sampai sekarang Prabowo Subianto selaku ketua umum Partai Gerindra belum memberikan instruksi mengenai pengganti Sandiaga. Di lain pihak, PKS tak mau kehilangan kesempatan mendudukkan orangnya sebagai wagub. Ketidaktegasan Prabowo membuat PKS terus bermain mata agar mendapat kursi Wagub.

Sebelumnya, Pengamat Politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie menilai ada sandiwara politik dari PKS dan Gerindra. Jerry menduga, kedua partai akan terus bersandiwara hingga pilpres 2019 nanti. Tentu saja, warga Jakarta yang dirugikan.

“Seperti ada unsur kesengajaan atau sebuah sandiwara politik yang dimainkan sampai tahun depan. Saya curiga mereka menunggu hasil Pilpres baru diumumkan, siapa yang jadi wakil gubernur,” kata dia.

Dia curiga, kalau pun kemudian koalisis Prabowo-Sandiaga kalah di Pilpres, maka Sandiaga akan kembali lagi menjadi wakil gubernur.

Menurut Jerry, jika skenario itu terjadi, sungguh tidak etis. Alhasil, sudah seharusnya Gerindra dan PKS segera menunjuk siapa pengganti Sandiaga. Pasalnya, Jakarta memerlukan perbaikan dan percepatan pelayanan publik.

“Kalau Sandiaga kalah bisa saja dia balik menjadi wagub DKI Jakarta. Sudah seharusnya dipercepat jangan tunggu sampai tahun depan,” ujar dia.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

DON'T MISS